Dua Jam untuk Selamanya

Guru olahraga di sekolah tak pernah mampir dalam setiap obrolan kita tentang olahraga.

Bicara tentang olahraga adalah bicara tentang kesehatan, atau paling apes tentang tontonan olahraga di televisi. Kalau yang terakhir itu masih kurang putus asa, maka olahraga hari ini paling banter dibicarakan sebagai bagian dari gaya hidup. Menjadi member Platinum di tempat fitness yang berlokasi di mall hanya untuk ikut kelas yoga-nya sehabis meeting di sekitaran Sudirman-Thamrin –itulah olahraga. Guru olahraga? Siapa yang masih ingat!

Maka, ketika sebuah majalah pria meminta saya menulis tentang guru olahraga (dengan brief yang panjang-lebar), saya pun terbengong-bengong. Apa menariknya? Ingatan pertama yang kemudian muncul justru komentar kakak perempuan saya tentang sepeda Pak Anjar, guru olahraga kami di sekolah dasar (SD). Kami satu sekolah di SD Negeri 88 Gondang di Solo, dan sekarang sekolah itu sudah tidak ada. Saya terpaut tiga tahun dengannya, dan kami diajar oleh guru olahraga yang sama. “Jan-jane bagus, ning kok pit-e elek banget, mesakke ya,” itulah komentar kakak perempuan saya tentang Pak Anjar dalam bahasa Jawa. Makna kata-kata itu adalah pujian terhadap kegantengan sang guru, namun sayang sepedanya butut dan bagi kakak saya, itu patut dikasihani.

Pak Anjar guru olahraga merangkap guru kesenian. Di luar soal ganteng yang disebutkan kakak saya, perawakannya –kalau saya ingat dan analisis kembali sekarang– sungguh jauh dari gambaran yang umum tentang idealnya seorang guru olahraga. Galak, itu sudah pasti namun tubuhnya kerempeng dan anehnya kami tak pernah sekali pun melihatnya dalam kostum olahraga. Areal sekolahan kami sempit. Di bagian depan hanya cukup untuk bak pasir sebagai sarana olahraga lompat jauh dan lompat tinggi, dan pada sudut yang lain ada titian bambu untuk keseimbangan tubuh. Ya, itulah olahraga kami. Sesekali, Pak Anjar membariskan kami untuk menuju ke Lapangan Manahan, yang berjarak sekitar 10 menit jalan kaki. Di sana kami bisa sepakbola, lempar lembing, kasti yang biasanya didahului dengan lari keliling lapangan.

Jadi, setiap jam pelajaran olahraga, kami berharap cemas, menunggu komando Pak Anjar, apakah kami akan berolah raga di halaman sekolah, atau ke Lapangan Manahan. Yang pertama bikin kami mengeluh, menggerutu dan malas-malasan, yang kedua membuat kami bersorak-sorak kegirangan. Apapun yang terjadi, Pak Anjar memimpin kami, dengan pakaian seperti yang ia kenakan sehari-hari ketika mengajar menyanyi, kemeja lengan panjang yang ujungnya dimasukkan ke dalam celana bahan, rapi, klimis, mengawalinya dengan instruksi gerak-gerak pemanasan, lalu, jika permainan sudah dimulai, dia akan menghilang entah ke mana. Jika sudah tiba saatnya, ia akan muncul, meniup peluit, tanda bahwa kesenangan dan kebebasan sudah berakhir, saatnya menanggalkan kaos olahraga, kembali mengenakan baju seragam, dan duduk rapi mengikuti pelajaran selanjutnya.

Dua jam yang menyenangkan itu selalu ditunggu-tunggu, dan hanya datang sekali dalam seminggu, bersama Pak Anjar yang betapa pun galak, tapi kami anggap pahlawan, karena hanya dialah yang bisa memberi kami pelajaran yang berbeda, tanpa harus menulis, dan tak pernah ada P-R. Yang paling menyedihkan apalabila Pak Anjar tidak ada ketika jam pelajaran olahraga tiba. Kami harus menerima guru pengganti, dan itu artinya tidak ada olahraga, baik di halaman sekolah maupun di lapangan, hanya duduk di dalam kelas, mendengarkan “cerita” tentang olahraga, kesehatan, makanan sehat, penyakit dan hal-hal semacam itu, yang sangat membosankan.

Cerita berganti ketika saya mulai duduk di bangku SMP dan SMA. Guru-guru olahraga tak lagi mewakili gambaran umum yang cenderung “suram” mengenai guru awal dekade 90-an. Mungkin karena saya sekolah di sekolahan-sekolahan yang bagus, sehingga guru-gurunya pun relatif (lebih) makmur dan sejahtera. Di SMP 4 Surakarta, guru-guru olahraga kami bermobil, demikian juga ketika saya masuk ke SMA 1 di kota yang sama. Dan, mereka semua adalah guru-guru senior yang punya jabatan penting, ada yang sekaligus guru BP (Bimbingan dan Penyuluhan), dan ada juga yang bahkan menjabat wakil kepala sekolah.

Mereka adalah guru-guru yang terhormat, mewakili citra lembaga sekolahnya (sekolah unggulan, sekolah favorit, sekolah teladan), terkesan berwibawa, dan ditakuti. Ironisnya, pelajaran mereka tetaplah hanya seperti pelengkap, saat untuk hura-hura melepas ketegangan di tengah suntuknya murid-murid dari -mayoritas- keluarga kaya dan baik-baik itu mengasah ketajamannya dalam pelajaran-pelajaran penting yang bergengsi seperti matematika, fisika, kimia, biologi dan bahasa Inggris. Pelajaran olahraga disukai, tapi tak pernah benar-benar dianggap setara, karena memang tak ada yang diajarkan.

Seminggu sekali, selama dua jam pelajaran, kami “dilepas” di lapangan, untuk sesuatu yang ambigu: benarkah itu saat paling membebaskan, atau justru di situlah, untuk pertama kalinya, para murid diperkenalkan dengan pendisiplinan dan semangat kompetitif, yang penuh tekanan. Itulah sebabnya, mengapa guru-guru olahraga di SMP dan SMA umumnya sekaligus merangkap sebagai guru BP atau bahkan wakil kepala sekolah (bidang kesiswaan), karena memang ada ‘udang di balik batu’ di balik dua jam yang menyenangkan itu. Pelajaran olahraga adalah sebuah misi suci, dan para guru olahraga yang rata-rata sudah sepuh, dengan rambut memutih, membuat segan siapapun yang menghadapinya, adalah para pengemban misi mulia itu.

Dari SD ke SMP dan SMA olahraganya tetap sama, itu-itu saja, dan paling banter bermuara pada sepak bola dan basket. Di SMP saya ada variasi olahraga renang, dan guru kami, Pak Darno, dengan tubuhnya yang gempal kami saksikan mengenakan celana renang, masuk ke dalam air, mengajari cara meluncur hingga gerakan pertama tangan untuk gaya bebas, sesuatu yang kontras dengan kesehariannya di sekolah, rapi, berwibawa, dan ditakuti. Ketika ia mengenakan celana renang di antara murid-muridnya yang juga berkostum renang, maka jarak yang paling angker sekalipun seolah mendadak luruh, tak ada lagi batas, bahkan dalam arti yang paling tabu sekalipun. Kami murid-murid baik cowok maupun cewek bisa melihat tonjolan penis pak guru, dan mungkin dibarengi dengan fantasi tertentu di kepala masing-masing, sesuai usia kami saat itu. Demikian pula sebaliknya, pak guru bisa mengawasi kami dalam ketelanjangan yang masih pantas, tak melanggar norma susila, tapi tetap saja itu adalah sebuah ketelanjangan. Relasi saling memandang dan dipandang antara guru-murid itu tentu saja bukanlah satu-satunya modus, karena masih ada probabilitas relasi lain, yakni antarmurid sendiri, baik cowok ke cewek, maupun sesama cowok atau sesama cewek. Kemungkinan dari relasi itu bisa bercabang sangat banyak, dari yang saling memandang karena ‘sekedar’ penasaran, untuk berfantasi sampai yang saling “membandingkan”. Semua itu disertai dengan dinamika perasaan lain yang menyangkut semacam rasa bersalah, deg-degan, malu sendiri, dan sebagainya. Tapi sesuatu yang serius sedang terjadi: di situlah awal pengenalan terhadap diri sendiri, terhadap tubuh, hasrat, dan identitas (seksual).

Guru olahraga, dengan demikian, memang punya peran yang tak pernah disadarinya atau setidaknya tak kasat mata, tak tertulis dalam job desk. Tapi, benarkah itu semua di luar skenario? Apakah Pak Darno memasukkan cabang olahraga renang hanya karena keisengannya semata, tanpa tujuan tersembunyi, apapun itu? Apakah itu memang sesuai kurikulum? Apapun jawabannya, renang bukanlah satu-satunya cara yang paling vulgar, sekaligus paling ‘tulus’ untuk menjadikan pelajaran olahraga menemukan kesenangannya yang paling maksimal, baik bagi guru maupun murid-murid sendiri. Pada olahraga lain seperti basket, efek dari kesenangan yang bersifat seksual itu ternyata bisa tak kalah atau bahkan lebih tak terduga, karena celana-celana pendek yang kami kenakan membuat garis dari bayangan celana dalam di bagian belakang, dan kaos-kaos putih yang dipakai murid-murid cewek membuat para cowok jadi tahu, siapa di antara mereka yang sudah pakai BH.

Setahu saya, guru-guru olahraga kami di SMP maupun SMA dulu semuanya menikah dan punya anak, dan ini untuk sementara anggap saja langsung menjelaskan bahwa mereka bukan gay. Satu stereotip terlewati, dan pertanyaannya sekarang, apakah mereka pria-pria paruh baya puber kedua yang genit, berotak mesum, pria-pria tua yang nakal mencari-cari kesempatan untuk berbuat atau setidaknya menyalurkan hasrat fantasi cabul dengan murid-murid cewek yang mulai mekar? Seingat saya juga tidak. Di koran-koran kuning, citra guru olahraga ‘setara’ dengan dukun cabul atau guru ngaji bejat –memperdayai anak-anak yang berada di bawah kuasa dan dominasinya, untuk melancarkan hasratnya yang tersembunyi. Tapi, yang dilakukan guru olahraga kami paling banter adalah menghukum murid yang telat, dengan set up atau lari, atau dalam lingkup yang lebih besar di tingkat kebijakan sekolah, mereka menjadi pelaksana program mingguan seperti senam bersama setiap Jumat, dan lagi-lagi menghukum murid-murid bandel yang tidak hadir. Di luar stereotip gelapnya sebagai pria-pria cabul, ada yang lebih gawat dan lebih perlu diwaspadai dari guru olahraga sebenarnya justru kemungkinannya untuk secara halus menjadi perpanjangan dari ideologi militeristik Ode Baru (sampai saya lulus SMA kekuasaan Soeharto masih demikian kuatnya), yang menekankan nilai-nilai kedisiplinan untuk menciptakan kepatuhan pada negara.

Tapi, analisis semacam itu sebenarnya juga tak kalah stereotipnya. Bagaimana jika guru-guru itu hanyalah pria-pria tua polos yang baik hati, bapak-bapak yang menganyomi murid-muridnya layaknya dia menyanyangi anak-anaknya sendiri di rumah? Tapi, sebagai lelaki biasa di antara umumnya laki-laki, ada saat bagi mereka ketika pikiran nakalnya muncul, diam-diam mencuri-curi pandang ke arah dada kuncup murid-murid ceweknya di balik logo hijau di sudut kiri kaos olahraga, atau iseng melirik ke bagian paha yang terbuka. Apa salahnya? Yang mungkin paling ‘aman’ untuk melihat kembali guru-guru olahraga kita di masa sekolah dulu adalah dengan mempertimbangkan kembali dampaknya saat ini. Guru-guru olahraga itu mungkin memang bukan yang paling kita ingat, bukan yang paling ingin kita kunjungi di Hari Lebaran untuk menyambung silaturahmi. Tapi, mungkin mereka menyumbang sebagian dari proses konstruksi kepribadian, identitas, kecenderungan sifat dan cara pandang kita, lebih daripada guru-guru yang lain. Tidak seperti guru fisika atau matematika yang masuk ke kelas kita sebanyak 6 jam pelajaran per minggunya, guru olahraga hanya menemui dua jam saja, itu pun dengan komunikasi dan tatap muka yang tak intens. Kita hanya dipandu untuk pemanasan, kemudian dibebaskan untuk bermain di lapangan. Tapi, saat itulah, mungkin untuk pertama kalinya, kita merasakan keheranan, mengapa jantung berdegup lebih kencang, dan ada sesuatu yang bangkit di balik celana ketika melihat dada teman perempuan yang mulai tumbuh, dan kenapa merasa agak iri dengan otot lengan teman pria yang terlihat lebih kokoh.

Dan, di kemudian hari, barulah kita menemukan jawabannya, yang memberi kesadaran baru pada tubuh kita sendiri, mungkin untuk selamanya.

Advertisements

2 thoughts on “Dua Jam untuk Selamanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s