Kacu dan Ali-ali: Metafora Pop Jawa

Kacu-kacu iki sing menehi saiki wis lali
Saputangan ini, yang memberi sekarang sudah lupa

Yen takon isi atiku mbesuke, persanana ali-ali
Kalau kelak kau bertanya tentang isi hatiku, lihatlah cincin (yang pernah kuberi dulu)

Tidak seperti karya-karyanya yang rumit, kaya dan multitafsir, kehidupan nyata para seniman besar kebanyakan justru nyaris tanpa metafora. Pada awal 80-an, Gesang masih tinggal di kampung Munggung di tepi sungai Pepe, pinggiran utara kota Solo, sebelum pindah ke Perumnas di Palur. Kami, anak-anak yang tumbuh di zaman itu, di kampung sebelah, Gondang, kerap menyaksikan lelaki tua itu membawa jala kecil dan berdiri di tengah semak krangkongan yang nyaris menenggelamkan tubuhnya di Tirtonadi, bekas taman bermain putri-putri kraton Mangkunegaran. “Pak Gesang! Pak Gesang!” bisik yang paling besar di antara kami, memberi tahu anak-anak lain.

Taman Tirtonadi terletak tepat di sisi kampung kami dan menjadi taman bermain anak-anak, juga orang dewasa. Ketika kami tumbuh, taman itu sudah menjadi puing-puing, tanah kosong tak terurus dan dimanfaatkan oleh orang-orang kampung untuk nyaris apa saja, dari berjualan batu nisan, hingga menanam kangkung. Di malam hari, konon, taman itu menjadi tempat mangkal para pelacur. Salah satu yang tersisa adalah beberapa blumbang yang indah, penuh bunga teratai di permukaannya, pohon jambu di pinggirnya dan ikan-ikan (serta katak dan kura-kura) di dalamnya. Di musim kering, blumbang-blumbang itu tertutup oleh genjer dan eceng gondok, dan itu pun bukanlah hal yang buruk. Bunga-bunga dari tanaman liar itu demikian indanya, ungu lembut tertiup angin, mengundang kupu-kupu, capung dan aneka jenis serangga terbang pemburu sari madu.

Bagi Pak Gesang, capung-capung itu jadi makanan burung peliharaannya. Tak tampak perawakan seorang seniman besar, ketika kami melihatnya kala itu. Penampilannya serba bersahaja, seperti pria tua kampung umumnya yang blusukan ke kebun. Di rumah, bapak saya hampir tiap hari menyetel kaset-kaset Gesang dan langgam jawa lainnya, juga campursari. Bapak membeli kaset-kaset bajakan di depan SD Kalam Kudus di Pasar Legi, memutarnya di tape recorder kotak gepeng besar merek Telesonic yang dihubungkan ke sepasang salon (loudspeaker) sebesar lemari baju. Saya hapal sebagian dari lagu-lagu yang diputar. Tak ada Bengawan Solo, atau Jembatan Merah. Kaset bapak memuat lagu-lagu gesang yang berlirik bahasa Jawa, berkisah tentang cinta dan patah hati. Ada 5 lagu yang sangat saya hapal karena memang itulah karya-karya yang termasuk paling popular dan paling disukai dari sang maestro. Yakni Luntur, Pamitan, Caping Gunung, Kacu-kacu dan Ali-ali.

Lagu-lagu itu umumnya dikenal oleh orang Jawa hingga awal 80-an itu, dari anak-anak hingga dewasa. Namun, di kemudian hari, lagu Caping Gunung menjadi favoroit di setiap pertunjukan wayang kulit, atau dalam latihan keroncong di kampung-kampung. Lagu Pamitan bahkan populer secara nasional, pernah dinyanyikan kembali oleh Broery Marantika dalam versi bahasa Indonesia. Lagu Luntur masih menjadi “soundtrack” patah hati anak-anak muda Jawa hingga tahun 90-an. Lagu ini adalah contoh nyaris sempurna dari sebuah metafora cerdas dalam produksi lagu pop jawa. Gesang dengan jeli memperbandingkan antara “tresna”, cinta, dengan warna kain. Dua-duanya sama-sama bisa luntur, tapi lunturnya cinta jelas jauh lebih berbahaya dibandingkan sekedar “wenteran” warna kain.

Luntur, yang salah satu versinya dinyanyikan oleh Waldjinah, dibawakan dalam nada yang sangat sendu menyayat. Bila orang mendengarkannya dengan penuh penghayatan, akan mudah sekali terbawa emosi oleh lagu ini hingga meneteskan airmata. Waldjinah membawakannya dalam nada-nada tinggi, melengking, sedih, tapi menyimpan amarah dan gugatan. Lagu ini bercerita tentang cinta yang sudah luntur, dengan keunikan bahwa liriknya tak sekalipun menyebut sudut pandang orang pertama ‘aku’. Namun, jelas bahwa lagu ini merupakan gugatan dari seorang yang merasa dikhianati oleh orang yang mencintai/dicintainya. Perasaan luka dan kecewa itu melahirkan gugatan yang keras: yen luntura wenterane, ora kaya yen luntur tresnane (kalau telah luntur warna kain, tak akan semenyakitkan kalau sudah luntur rasa cinta). Berikutnya, si penggugat semakin keras: ora sembodo mbiyene, saben ndina mung tansah methukke (nggak ngaca, dulu setiap hari selalu mencegat di jalan). Tak ada subjek “aku”, bahkan juga tak ada objek “kau”. Ini berbeda dengan lagu lain, bertema sama, dan juga bermain-main dengan metafora, yakni Kacu-Kacu dan Ali-ali.

Pada dua lagu itu, Gesang sebagai pencipta jelas menyebutkan “aku” sebagai subjek orang pertama yang menderita, dan berbicara kepada objek orang kedua sebagai pihak yang telah meninggalkan atau memutuskan cintanya. Simak bagaimana lagu Kacu-Kacu dibuka: Kacu-kacu iki sing menehi saiki wis lali/ aku naliko nampani, kanthi janji sehidup semati (Saputangan ini, yang memberi sekarang sudah lupa/ aku ketika menerimanya, dengan janji sehidup semati). Di sini, sang aku adalah objek kenangan, orang yang menyimpan benda dari masalalu sebagai tanda cintanya. Pada Ali-ali, “cerita”-nya masih sama; bedanya: sang aku adalah si pemberi kenangan. Seperti kacu dalam Kacu-kacu, ali-ali dalam Ali-ali adalah penanda ungkapan perpisahan: Aku tak bisa mendampingimu sampai nanti, maka inilah ali-ali, pakailah, dan jangan lupakan aku.

Dalam rangkaian lirik Gesang yang indah aslinya begini: ngagema ali-aliku pamrihe ojo lali marang aku/ najan kulo mboten melu mbesuke elingana lelabetku. Lalu, lagu itu menyebutkan jenis-jenis cincin berikut warna permatanya dan apa makna dari masing-masing. Termasuk, disebutkan juga pertanda-pertanda yang rumit yang berkaitan dengan sebuah cincin. Misalnya: yen nganti ilang mripate jarena nemahi rubedha/ yen nganti dinggo wong seje mbesuke, wis mongso bodoha (kalau sampai ilang permatanya, akan menemui halangan/ kalau kelak sampai dipakai orang lain, aku tak tahu lagi). Lagu dengan lirik yang kompleks ini kemudian diakhiri dengan pernyataan dari si subjek bahwa dirinya telah memilihkan cincin perpisahan itu yang bermata biru, dengan maksud mrih sulistyo ingkang warni. Kemudian, disambung dengan kalimat penutup yang sangat manis: yen takon isi atiku mbesuke/ pirsanana ali-ali.

Kegemaran Gesang pada benda-benda keseharian yang sederhana sebagai matafora kisah cinta yang sedih, ternyata juga bisa dijumpai pada lagu yang bercerita tentang kehidupan secara lebih luas. Lihat misalnya lagu Caping Gunung. Lagu ini merupakan sebuah kenangan masalalu yang pahit, yang dipanggil kembali lewat ‘caping’, topi lebar yang biasa dipakai kaum tani dan nelayan. Si subjek aku dalam lagu ini mengenang anak laki-lakinya di masa berjuang dulu. Lagu dibukan dengan sedih, sebuah pernyataan bahwa anak lelakinya itu kini tak diketahui rimbanya. Ia hanya mendengar kabar-kabar “jarena wis menang keturutan sing digadang.” Lalu, ia pun bertanya, apakah kalau memang anak itu sudah sukses, sekarang sudah lupa (pada dirinya, sebagai orangtua)?

Lalu ia mengenang bahwa dulu, di gunung dia memberi makan nasi jagung dan kalau mendung dia meminjami caping gunung. Lagu ini ditutup dengan harapan: bahwa anaknya itu, di mana pun kini berada, telah sempat merasakan keberhasilan, agar tak sia-sia perjuangannya. Di era dalang-dalang pop pasca Ki Narto Sabdo, seperti Ki Anom Suroto, Manteb Sudarsono dan Warseno Slank, lagu-lagu Gesang nyaris tak pernah absen di bagian Limbukan atau pun Goro-goro. Anak-anak muda sangat menggemari lagu ini dan selalu melayangkan permintaan agar lagu tersebut dinyanyikan, bahkan lengkap dengan “bawa” atau bagian awalan yang panjang berupa tembang mocopat.

Warisan metafora pop Jawa ala Gesang tampak pada pencipta lagu jawa generasi berikutnya, dari Manthous, Didi Kempot hingga Cak Dikin. Lewat lagu berjudul “Nyidam Sari” misalnya, Manthous berhasil menghidupkan kembali metafora lama “bunga dan kumbang” sebagai pasangan muda-mudi yang tengah dimabuk cinta, tanpa menjadi basi.

“umpomo sliramu sekar melati/ aku kumbang nyidam sari // umpomo sliramu margi / aku kang bakal ngliwati

Bandingkan dengan versi “Bunga dan Kumbang” ala pencipta lagu pop “nasional” A Riyanto yang hanya berhenti pada “anda aku jadi bunga/ engkau jadi kumbangnya” (lihat misalnya pada lagu yang dinyanyikan Endang S Taurina), maka Manthous memberinya nilai lebih: andai kamu bunga/ aku kumbang yang mabok madu. Dengan mewarisi spirit Gesang, Manthous telah memberi nilai lebih pada metafora superklasik tentang bunga dan kumbang, dengan memberikan sentuhan yang jernih, bersahaja, tapi tetap memberikan kekuatan puitik yang indah.

[agak sulit menerjemahkan frasa “nyidam sari” tapi saya kira yang paling mendekati adalah mabok (merindukan) madu]

Jejak paling baru metafora pop jawa bisa ditelusuri pada Didi Kempot, penyanyi campursari yang cerdas dan fenomenal. Lagi-lagi kita akan ketemu dengan kisah cinta yang gagal, perpisahan, namun kali ini dengan simbol-simbol baru. Tak ada lagi benda-benda kenangan, tapi kini, menyesuaikan zaman, Didi bicara tentang tempat-tempat, lokasi kejadian. Seperti stasiun dan kota. Didi masih setia dengan bahasa jawa “asli”, tapi penyanyi yang muncul berikutnya, Cak Dikin, melepaskan diri dari pakem-pakem lama, lebih santai, sebagai bagian dari generasi yang disebut oleh Ariel  Heryanto, tak bisa menyelesaikan satu kalimat tanpa menyelipkan bahasa asing

Dalam konteks orang Jawa, diwaliki Cak Dikin, maka bahasa asing itu adala bahasa Indonesia, yang menyelip dalam bahasa ibu, Jawa. Judul lagunya sendiri bahasa Indonesia, Cinta Tak Terpisahkan, dan sangat populer di Jawa Tengah dan Jawa Timur sepanjang dekade 2000 lalu. Di tangan Cak Dikin, campursari menjadi benar-benar seni campuran, mencapuradukkan bahasa Jawa dengan Indonesia secara santai. Kalau orang Jawa selalu menjunjung tinggi soal rasa, maka yang dilakukan Cak Dikin faktanya tak merusak rasa apapun, juga keindahan seni apapun; lirik lagunya tetap punya greget dan indah. Berkisah –lagi-lagi dan sekali lagi– tentang “tresna”, Cinta Tak Terpisahkah dinyanyikan duet oleh vokal pria dan wanita, dan merupakan sebuah dialog yang berisi keraguan, janji dan harapan akan hubungan yang saling setia. Simak:

suara pria:

duh denok gandolane ati tegane nyulayani/ janjimu sehidup semati amung ana ing lathi
rasa sayangmu sudah pergi tak menghiraukan aku lagi

suara wanita:

duh kangmas jane aku tresna lilakna aku lunga/ ati ra kuat nandang rasa, rasa keranta-ranta
cintamu sudah nggak beneran/ aku cuma buat mainan

pria:

tresna iki dudu mung dolanan/ kabeh mau amergo kahanan
sing tak jaluk amung kesabaran/ mugi allah paring kasembadan

wanita:

mung nedem atiku/ ben aku ra mlayu
dan tanggung jawabmu itu palsu

pria:

denok, aku cinta beneran pasti kan kubuktikan
bapak-ibuku akan datang melamar dikau sayang

wanita:

hatiku selalu mendoakan semoga tuhan mengabulkan

pria dan wanita:

cinta kita tak terpisahkan walau di akhir zaman

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s