Tatapan Terkini atas Lirik Lagu Indonesia

1.
Tulisan Remy Sylado tentang betapa bebalnya lirik lagu Indonesia sampai saat ini belum memiliki bandingan. “Musik Pop Indonesia: Suatu Kebebalan Sang Mengapa”, demikian judul tulisan itu, terbit pada tahun 1977 di Majalah Prisma. Pada 1983 tulisan itu dihimpun kembali oleh Edi Sedyawati dan Sapardi Djoko Damono dalam bunga rampai berjudul “Seni dalam Masyarakat Indonesia” yang mereka editori. Inti tulisan tersebut, Remy mengeluhkan apa yang dia sebut “enggannya pemusik pop memberi pertanggungjawaban” sehingga “musik pop jadi begitu sembarangan”. Dengan sinis Remy lantas melempar pasemon: “mudah-mudahan saja….bukan sebab mereka bodoh, tapi karena bidang ini sudah biasa memanjakan mereka untuk tidak usah panjang-panjang berpikir.”

Lalu, untuk mengejar dan membuktikan apa yang sudah tersurat di judul tulisan, uraian berikutnya adalah kutipan-kutipan dari lirik-lirik lagu Indonesia yang umumnya, atau dalam istilah Remy “rata-rata”, mengandung “ratapan yang…mapan dalam pertanyaan sang mengapa”. Kata ‘mengapa’, demikian Remy terus merangsek, “….telah menjadi suatu manifestasi ketidaktentuan maknawi. Seni pop hanya ‘mengapa’ melulu dan tak pernah memberi jawaban tentang itu.”

Lucu, juga seru, menyimak kembali bagaimana Remy terus melancarkan serangannya dengan kalimat-kalimatnya sinis-pedas-nyelekit, seperti ini, “Apabila laki-laki yang maunya jantan dengan tangkringan pemberontak karena rambutnya yang gondrong toh tak kuasa lepas dari ketergantungan sang mengapa, apalagi hanya Broery yang memang mati-matian bekerja demi pop.” Dia menyindir para rocker, dan membandingkannya dengan Broery (dulu masih) Pesolima (belum Marantika).

Alhasil, dari Bimbo hingga The Rollies, dari Deddy Dores hinggga God Bless, Giant Step, Super Kid semua kena sikat. Apalagi nama-nama seperti Koes Plus dan A Riyanto! Oke, jadi kesimpulannya? “Pop Indonesia memang hanya catatan tentang orang-orang yang sakit jiwa, yang menangisi hidupnya karena mengapa ditinggalkan cinta,” demikian bantai Remy Sylado.

2.
Jika di awal risalah ini saya memulai dengan klaim bahwa sampai saat ini tulisan Remy Sylado tersebut belum memiliki bandingan, di kemudian hari yang muncul justru tulisan yang meneguhkan kembali kebenarannya. Reportase Republika di era reporter Jose Rizal Suriadji memperkuat tulisan itu dengan menambahi daftar lagu-lagu terkini (sampai tahun itu) yang menurut dia “masih bebal-bebal saja”. Cilakanya, yang dipakai buat contoh oleh Jose Rizal adalah salah satu lagu KLa Project, yang dikenal dan diakui luas sebagai band pengusung lirik lagu yang indah, puitis, pendek kata bermutu. Jose menyerang lagu berjudul “Tak Bisa ke Lain Hati” yang dinilainya “mampet di logika”.

Bagian lirik yang membuat Jose melemparkan vonis itu adalah: “terwujud keinginan yang tak pernah terwujud.

Kakak saya, perempuan, kala itu masih SMA, seorang Klanis sejati, bersungut-sungut membaca artikel itu. “Iki mosok wartawane ora mudeng tho? Terwujud keinginan yang tak pernah terwujud itu kan maksudnya jelas, ada keinginan yang selama ini tak pernah terwujud, dan kini terwujud. Terwujud keinginan yang sebelumnya tak pernah terwujud, maksude ngonooo…” katanya seolah menerapkan teori parafrase dalam memaknai puisi yang diajarkan dalam mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di sekolah.

3.
Menilai sebuah karya seni, termasuk musik, termasuk segi liriknya, adalah sebuah aktivitas yang bersifat “politis”. Artinya, banyak, atau minimal ada, kepentingan tertentu di balik itu, apapun makna yang bisa kita berikan pada kata “kepentingan”. Remy Sylado tentu sah-sah saja datang dengan tesis seperti itu, lalu membuktikannya dengan contoh-contoh yang meyakinkan. Tapi, itu artinya ia harus dengan sengaja menyingkirkan lagu-lagu lain, dari penyanyi, musisi dan band lain, yang membawakan lagu-lagu berlirik bagus, cerdas, inspiratif dan menggugah semangat.

Pada tahun ketika Remy membuat tulisan itu, musik Indonesia sudah punya Guruh Soekarno Putra, misalnya, yang oleh media dan pengamat disebut-sebut sebagai pengusung musik gedongan, dengan lirik yang berkelas. Kemunculan Guruh kala itu, oleh para pengkaji budaya pop Indonesia di kemudian hari, dikontraskan dengan keberadaan Rhoma Irama, atau Iwan Fals, yang mengibarkan musik yang identik dengan semangat kerakyatan. Remy memang menyebut lagu ‘Renjana’ ciptaan Guruh, namun hanya sebagai penguat tesisnya bahwa musik pop memang “harus” dangkal karena hanya semata memenuhi kepentingan dagang. Terbukti, lagu ‘Renjana’ yang dikirim untuk berlaga di sebuah kompetisi di Jepang kalah, dan dikomentari oleh Mus Mualim (yang pernah menang di ajang tersebut) bahwa Renjana terlalu ideal….

Bagaimanapun, lewat tulisan itu Remy tengah melakukan sebuah kritik. Dan, tulisan ini tentu saja tak hendak mengkritik sebuah kritik. Mudah-mudahan tidak terdengar terlalu ambisius, jika tulisan ini bermaksud untuk memberikan wawasan bandingan terhadap kritik Remy yang telah menjadi salah satu dokumen penting dalam referensi kajian budaya pop di Indonesia itu. Saya akan memulai dari titik yang sama dengan yang dilakukan Remy, yakni dari lagu Bimbo.

Remy menggunakan lagu Bimbo berjudul ‘Takkan Terulang Lagi’ untuk memasuki kritiknya terhadap lirik lagu Indonesia. Menurut dia, syair lagu tersebut “…tak beda dengan ratapan penyanyi pop yang sekolahnya tidak keruan itu”. Padahal, Bimbo adalah “kelompok bersaudara yang anggotanya sarjana-sarjana.” Baiklah, kalau faktor kesarjanaan ini memang cukup penting untuk dilibatkan, maka kiranya lagu ‘Flamboyan’ bisa mewakili citra itu. Mari simak liriknya:

senja itu flamboyan berguguran
seorang dara memandang terpukau

satu-satu daunnya berjatuhan
berserakan di pangkuan bumi

bunga flamboyan itu diraihnya
wajahnya terlihat sayu
flamboyan berguguran
berjatuhan berserakan

sejak itu sang dara
berharapan
esok lusa bersemi kembali

4.
Melihat dengan tatapan jujur dan jernih, akan tampak sebuah kecenderungan menarik dalam lirik lagu Indonesia, tempat berbagai keajaiban kecil kerap muncul, mengejutkan, menggairahkan, membangkitkan, bikin senyum-senyum sendiri, galau, seru, unik dan yeah, sebagian barangkali tak terlupakan. Bahkan, dalam perkembangannya, lirik secara tak terduga dimaksimalkan sebagai bagian dari kekuatan musikalitas pada sebuah lagu. Kata-kata tak hanya disodorkan sebagai rentetan makna yang mengandung pesan yang hendak disampaikan sebuah lagu, melainkan diberdayakan secara otomom sebagai “bunyi” yang musikal.

Tapi, sebelum sampai ke sana, mari kita sedikit berteori terlebih dahulu. Kita tumbuh bersama lagu pop. Jatuh-bangun politik, ekonomi dan sosial sebuah bangsa tak perna lepas dari budaya pop yang di dalamnya terdapat lagu pop sebagai salah satu pilarnya. Lagu pop menjadi medan arena berbagai wacana yang saling tarik-menarik, dari identitas (gender, maskulinitas, feminisme), ideologi (kebangsaan, nasionalisme) hingga agama.

Pada tahun 1998 kaum beragama di Indonesia dibuat gerah oleh sebuah lagu yang liriknya membuat hati mereka tidak berkenan. Lagu itu berjudul ‘Takdir’, yang merupakan soundtrack sinetron populer dengan judul sama yang dibintangi Jeremy Thomas dan Dessy Ratnasari. Lagu ciptaan Chossy Pratama itu mengandung lirik “takdir memang kejam, tak mengenal perasaan”. Kaum Islam yang memiliki konsep tertentu atas takdir merasa tersinggung dengan lirik itu. Chossy sampai harus meminta maaf secara terbuka di media dan mengganti lirik itu menjadi “kasihku yang hilang, tak mengenal perasaan…

Jauh sebelum itu, negara dengan penduduk terbesar kelima di dunia ini dihebohkan dengan sebuah hits yang dibawakan oleh Betharia Sonata. Lagu berjudul ‘Hati yang Luka’ itu berkisah tentang kejamnya seorang suami hingga membuat si istri tak tahan dan minta dipulangkan ke orangtuanya. Lagu ini mengusik pemerintah yang berkuasa karena dinilai mengangkat selera rendah, melemahkan semangat, membuat orang mudah menyerah dan…ujung-ujungnya…taraaaaa….. “melemahkan komitmen pada usaha nasional untuk maju”.

Pada 1995, BJ Habibie yang kala itu menjabat Menristek mengecam musik rap, yang tengah ngetren di pasaran, sebagai musik yan “tak punya nilai seni, kotor dan menjijikkan.”

5.
Dampak dari serangan dan kecaman kaum pejabat terhadap lagu pop Indonesia memang menimbulkan kehebohan. TVRI bahkan kemudian melarang penayangan lagu-lagu cengeng setelah adanya pernyataan pemerintah melalui Menteri Penerangan Harmoko itu. Dan, sejumlah lagu rap liriknya kemudian disensor ketika tayang di TVRI, atau diganti. Lagu rap berjudul ‘Cewek Matre’ misalnya, mengganti liriknya yang berbunyi “cewek matre, nggak ada otaknye” dengan kalimat yang dianggap lebih sopan. Namun, semua itu hanya sesaat, dan tidak berpengaruh besar terhadap industri musik pop secara umum. Jika kemudian terasa terjadi perubahan pada kecenderungan tema, corak, dan lirik lagu Indonesia, dari yang cengeng menjadi apa yang kemudian disebut sebagai pop kreatif, maka hukum pasarlah yang sebenarnya lebih bekerja.

Era lagu cengeng kemudian memang berlalu dengan sendirinya, seiring munculnya nama-nama baru dalam industri musik, seperti Deddy Dukun, Dian Pramana Putra, Fariz RM, menggantikan dominasi A Riyanto, Rinto Harahap dan Obbie Mesakh dengan lagu-lagu ciptaan mereka yang umumnya memang melow, sendu-mendayu. Sebutan, yang sebenarnya lebih merupakan strategi dagang juga, “pop kreatif” merujuk pada lagu-lagu dengan irama yang lebih riang, rancak, berderap-derap, disertai lirik dengan tema yang tak lagi hanya berputar pada masalah cinta, patah hati (seperti sudah dikeluhkan pada zaman Remy Sylado), melainkan terkembang ke isu-isu kehidupan secara lebih luas, dengan ujaran-ujaran yang terdengar lebih optimistik pula.

Deddy Dukun dan Dian Praman Putra misalnya, membentuk kelompok 2D dan merilis album berjudul ‘Iman dan Godaan’ dengan lagu berjudul sama sebagai andalannya, yang berhasil menjadi hits. Sesuai dengan judulnya, lagu ini berisi pernyataan diri yang positif atas keimanan dalam menghadapi godaan dunia. Meskipun tak pernah ada pengamat yang memasukkannya ke golongan lagu religi, lirik lagu ini barangkali salah satu yang paling relijius yang pernah diciptakan dalam bahasa Indonesia.

Diawali dengan sebuah pengakuan jujur: Imanku goyah manakala kehidupan ini menjanjikan/ semua yang kuinginkan/ dari kesukaan dunia, lagu ini diakhiri dengan sebuah deklarasi yang heroik: Biarlah dunia ini akan porak-poranda/ namun keimananku harus utuh/ dan akan selalu kujaga….

Nama yang sama juga mempelopori tren menyanyi secara keroyokan, dengan lagu-lagu berciri khas nasihat tentang bagaimana menjalani hidup secara bijak dan penuh harapan. Kelompok 7 Bintang misalnya, merilis lagu ‘Jalan Masih Panjang’, dengan lirik seperti ini:

Kusadar hidup ini hanya sebentar/ untuk apa putus asa/ kan buang waktu saja
Bukankah setiap orang punya problema/ yang harus kita lalui/ dengan hati yang tabah

Lupakan sudah masalalu kelabu/ kita susun langkah baru/ jangan hanya menunggu
Harapan kesempatan dan jua waktu/ Takkan selamanya datang/ menghampiri hidup kita

Lagu ini dinyanyikan oleh 7 penyanyi, termasuk 2D sendiri, dan nama-nama beken kala itu seperti Tri Utami, Malyda dan Atiek CB. Lagu penuh motivasi tersebut diakhiri dengan anjuran untuk senantiasa bersyukur, berdoalah dan mengingat “Dia yang di Atas Sana”.

Indra Lesmana bergabung dengan barisan pengibar pop kreatif ini, meskipun sebelumnya ia telah eksis lewat band bernama Krakatau. Sebagai solois dan pencipta lagu, ia banyak memberikan lagu-lagu dengan nada positif yang memotivasi, seperti lagu “Ekspresi” yang dinyanyikan oleh Titi DJ. Belakangan lagu ini menjadi semacam “anthem” bagi orang-orang yang bergerak dalam industri hiburan. Liriknya bergema di mana-mana, dan sangat menjadi sangat familiar:

Mari berkarya/ dalam puisi dan lagu/ musik dan tari/ layar perak, panggung gerak/ adalah tempat kita insan dunia/ ekspresikan diri

Indra bahkan juga menciptakan lagu yang merupakan rasa syukurnya atas “cenderamata (dari) yang Maha Esa”. Lagu berjudul ‘Warna’ ini dinyanyikan oleh penyanyi Malaysia yang terkenal di Indonesia, Sheila Madjid. Begini liriknya:

Lihat pada si pelangi seribu satu dimensi warna sari dalam sinar hidup kita
Menghiasa alam ini, inspirasi dunia seni, kusyukuri cenderamata Maha Esa

Oh warna-warna pada dunia, kuterpesona kau teristimewa

Tema yang dituangkan dalam lirik-lirik lagu ini sungguh unik dan tidak ada duanya

Dari celah yang agak berbeda, Fariz RM memperkuat barisan kaum “pop kreatif’ dengan lagu-lagu yang tak kalah kreatif. Ia berkisah tentang perjalanannya ke Barcelona, dalam lagu berjudul sama, yang berisi lirik-lirik puitik nan romantis, diselipi dengan satu-dua baris lirik berbahasa Spanyol. Ia juga menciptakan dan menyanyikan sendiri lagu berjudul ‘Penari’, yang sungguh provokatif. Mari simak:

Merah menyala gaunmu ketat menggoda
senyum nakalnya cukup tuh menambah dosa
Kerling matanya menjerat/ iman yang tak kuasa

Oke, cukup sampai di situ. Dengan tema yang hampir sama, Fariz juga menciptakan lagu berjudul ‘Susi Belel’. Siapa dia? “Susi Belel namanya/ bercumbu profesinya/ Susi Belel nakalnya/ Tak ngeri urusan hamil/ Telah kenal mujabanya pil/ Tak pernah mau pusing/ cinta itu bagai vitamin.”

Susi Belel adalah sebuah balada yang merekam fenomena sosial Jakarta tahun itu, ketika banyak cewek abege “jual diri” di mall dan menjadi banyak sorotan media. Fariz menggambarkan Susi dengan “wajahnya sedikit lumayan/ body bikin deg-degan/ dari balik rayband hitamnya/ pagi pergi keluar rumah berseragam SMP/ Dia pun berganti jeans belel di dalam mobil BMW/ Melintas Melawai, rambut dilepasnya lembut melambai/Matanya menggoda, mengintai….

Dibanding ‘Penari’ yang bernada mengkhotbahi (…penari, kau boneka jelita pesona jerat tubuhmu terbalut sendu, sadarlah….), pada ‘Susi Belel’ suara Fariz terasa lebih jernih dan jujur. Lagu-lagu Fariz RM memberikan definisi baru atas apa yang sebelumnya disebut sebagai lagu kritik sosial yang biasa diidentikkan dengan nama-nama seperti Iwan Fals, dengan rekaman kehidupan rakyat kelas bawah, orang-orang pinggiran dan manusia-manusia kalah. Fariz meneropong dunia yang lebih glamor dan gemerlap, walau tak kalah kelam. Dengan kepiawaiannya merangkai lirik, ia tak hanya berhasil memberikan efek aktualitas pada lagunya, melainkan juga tak melupakan estetika sebuah lirik lagu yang tertata dalam rima.

6.
Meskipun awalnya tampak sebagai tren pasar, kemunculan “pop kreatif” rupanya memberikan berkah tersendiri bagi industri musik Indonesia karena menginspirasi lahirnya musisi-musisi baru yang barangkali belum ada preseden sebelumnya. Sementara genre lagu cengeng semakin tak punya tempat dan lambat-laun benar-benar seperti menghilang, muncullah musis-musisi dan penyanyi unik yang melampaui pop kreatif. Mereka tak cuma bermain pada lirik-lirik lagu yang bernada positif, atau kritik sosial, melainkan mengolah lirik itu sebagai bagian dari musikalitas itu sendiri.

Pada 1989 muncul sebuah band bernama Indonesia 6 lewat debut album yang mengusung lagu berjudul ‘Fatamorgana’ sebagai jagoan. Lagu ini didominasi permainan instrumen musik, dan hanya melantunkan lirik yang terdiri dari 4 baris pendek-pendek yang diulang-ulang :

bawalah aku bersamamu/ dengan harapan baru/ melambung tinggi bayanganmu/ melayang, melayang

Di kemudian hari muncul pula sebuah project musik yang diprakarsai dua nama, Eramono Sukaryo dan Putut Mahendra. Dua musisi ini lebih ekstrem lagi dalam mengeksekusi bahasa Indonesia sebagai “lirik lagu”. Lagu mereka berjudul ‘Ilusi’, dan mereka memain-mainkan kata itu berulang-ulang dengan cara memotong-motong per suku kata, dan menukar-nukarkannya secara bebas.

I lu-si si…il lu si il il lus si il lus lus si si lus lus si il il lus si…begitu terus-menerus sebelum kemudian masuk ke lirik yang normal, seperti ini:

tak tahu apa yang terjadi/ pada dirimu hari ini/ kau bilang dia cinta/ kau bilang dia minta/ satu janji setia/ untuk selama-lamanya

Lihat bagaimana kata ‘cinta’ dan ‘minta’ dimainkan tidak hanya untuk mengejar rima, melainkan juga efek lain yang tak terduga dari nuansa perbedaan bunyi kata.

Dengan cara yang lebih total, Sujiwo Tejo, yang mengklaim dirinya sebagai pemusik kata-kata, benar-benar meleburkan lirik menjadi musik itu sendiri. Dan bermain-main dengan kata-kata yang memiliki perbedaan sangat tipis dalam bunyi namun punya makna yang berbeda.

Nadyan aku tansah kalingan sliramu/ nadyan tansah kelingan sedyamu/ nadyan aku tan nggandheng tanganmu/ tan bisa tanganku/ nadyan mung gandheng neng impen/ nadyan mung kelingan/ nadyan kaling-kalingan…

Lagu ini adalah sebuah balada akapela, satu-satunya “musik” adalah suara koor yang melatari vokal berat Sujiwo Tejo sebagai vokalis utama. Lirik yang hanya terdiri atas 7 kalimat pendek-pendek itu diulang-ulang terus-menerus, menghasilkan sebuah harmonisasi (grup) vokal yang mencengangkan, dan belum pernah ada dalam industri musik Indonesia sebelumnya. Bagi yang tak paham Bahasa Jawa, rasanya tak terlalu sulit untuk merasakan irama yang padu dari kata-kata itu. Bagaimana kata ‘tan-sah’ (selalu) diulang-ulang dan dipertukarkan dengan ‘tan’ (tidak). Bagi yang paham Bahasa Jawa, rasanya ekstase mendapati permainan kata ‘kelingan’ dan ‘kaling(-kaling)an’; antara ‘ingat’ dan ‘terhalang’ — “meskipun hanya ingat/ meskipun terhalang…” (BERSAMBUNG)

Advertisements

2 thoughts on “Tatapan Terkini atas Lirik Lagu Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s