Perjalanan Kaum Pesolek Kelas Bawah dan Metafora Lainnya: Tatapan Lebih Lanjut atas Lirik Lagu Indonesia

7.
Dengan kilasan kasus-kasus ajaib yang saya highlight di atas, saya hendak menunjukkan bahwa setidaknya sejak munculnya tulisan Remy Sylado itu, lirik lagu Indonesia sudah melangkah sangat jauh, dan mencapai titik-titik yang barangkali paling kreatif yang bisa dicapai. Dalam pada itu, kita juga sering mendengar cerita yang terungkap di media tentang bagaimana para pencipta lagu Indonesia mengerjakan lirik mereka. Kisahnya selalu minor, misalnya, banyak musisi yang memperlakukan lirik sebagai jawaban teka-teki silang. Artinya, lagu sudah jadi, lalu memasukkan kata-kata liriknya seperti orang mengisi teka-teki.

Tapi apa yang salah dengan itu? Bagi publik, seni adalah soal hasil, bagaimana prosesnya itu urusan sang kreator. Ada cerita yang sudah menjadi populer di kalangan wartawan musik tentang bagaimana lirik lagu ‘Misteri Cinta’ yang dinyanyikan Nicky Astria tercipta. Serba cepat, dan boleh dikatakan instan. Berkat bantuan wartawan musik Remy Soetansyah (1958-2012), produser yang sudah memiliki lagu untuk Nicky meminta lirik kepada Ully Sigar Rusady. Konon, dalam waktu 15 menit, jadilah lirik yang dipesan itu. Hasilnya? Salah satu lirik dengan komposisi terbaik dalam sejarah musik pop di Tanah Air!

Kala cinta berlabuh di dermaga/ Kutelusuri karang terjal berliku/ Tak perduli pasirnya melukai/ Aku pasrah dalam rangkumnya
Bila cinta berlumur dusta/ Aku tenggelam dalam keruhnya/ Sebab dia memberi surya/ Walau dia perih menyalibku
Pedihnya kemesraan yang dalam/ Adalah luka karena tikamnya/ Tetes darah di atas suka cita/ Adalah duka lara di atas getarnya
Aku menjadi bulan di atas riaknya/ Aku menjadi bintang di atas gelombang/ Aku jadi segala yang diinginkannya/ Untuk didamparkan di pantai ini

8.
Jadi, lirik lagu yang bagus itu yang bagaimana dan seperti apa? Dan, siapakah lirikus terbaik di Indonesia? Seandainya hanya bisa menyebut satu jawaban untuk dua pertanyaan tersebut, maka tulisan ini sebenarnya sudah selesai saat saya mengajukan lagu Bimbo berjudul ‘Flamboyan’ di atas. Lagu tersebut diciptakan oleh seorang lirikus yang juga menyanyi, Iwan Abdurrahman. Di kemudian hari, ia dikenal sebagai penulis lirik lagu ‘Burung Camar’ yang saking populernya membuat penyanyinya, Vina Panduwinata, mendapat julukan sesuai judul lagu tersebut.

Di zaman Bimbo sedang berjaya, pria pecinta alam yang biasa disapa Abah Iwan tersebut melahirkan lagu-lagu balada yang kemudian menjadi abadi, seperti ‘Melati dari Jaya Giri’. Perhatiannya pada hal-hal di sekitar kita, seperti bunga flamboyan, melati, melahirkan lirik lagu dengan pengamatan dan kepekaan yang tinggi pada mood, detail dan emosi. Simak kembali lagu ‘Flamboyan’. Lagu ini tak sekedar bercerita tentang bunga yang mekar dan berguguran, melainkan kita diajak untuk mengamati seorang gadis yang terpukau pada bunga itu. Kehadiran gadis itu telah memberikan lapisan makna yang rumit pada “pesan” yang hendak disampaikan. Gambarnya begitu jelas, bening, menyentuh, ketika lirik sampai pada adegan “bunga flamboyan itu diraihnya/ wajahnya terlihat sayu.”

Lirik lagu-lagu Abah Iwan sangat sederhana khas pujangga Sunda yang merupakan pewaris kecantikan mahadahsyat tanah Parahyangan, yang melahirkan sastrawan seperti Ramadhan KH. Pada ‘Flamboyan’, ia hanya menggunakan idiom bunga dan seorang gadis, untuk bercerita tentang alam, kehidupan dan harapan manusia pada hari esok. Tanpa kotbah, filsafat, kata-kata mutiara, maupun jargon-jargon yang mengawang. Dalam ramuan lirik ala Abah Iwan, di lagu yang lain, kabut yang dibayangkan sebagai sesuatu yang “suram” dan “mengerikan” digambarkan dengan kosa-kata yang memberi kesan “hidup”. Bagaimana membayangkan “sejuta kabut turun perlahan/ merayapi jemari jalanan/ meratap, melolong lalu menjauh….”?

Abah Iwan yang muncul dan berkarya sezaman dengan Franky&Jane kemudian meninggalkan jejaknya pada Ebiet G Ade dan Gombloh, tentu saja dengan variasi dan ciri khas masing-masing. Lirik-lirik Ebiet bernada puisi, berkisah tentang seorang kekasih yang telah pergi meninggalkan dunia. Sedangkan Gombloh selain mendendangkan suara alam, juga bermain-main pada lirik yang komedis dan merakyat. Lagunya yang berjudul ‘Kugadaikan Cintaku’ menjadi sastra rakyat di zamannya. Sampai-sampai bunyi lirik “di radio, aku dengar, lagu kesayanganmu” menjadi lantunan keseharian yang bergema di mana-mana, dari semua usia. Lirik yang kuat dari lagu-lagu yang populer menjadi bahan obrolan di masyarakat, dan diparodikan di panggung-panggung para pelawak. Barangkali tidak ada lirik yang popularitasnya melebihi “mari kita bertanya pada rumput yang bergoyang” dari lagu Ebiet berjudul ‘Berita Kepada Kawan’. Dalam berbagai pentas Srimulat di TVRI era awal 80-an, pelawak Mamiek membuat geerrr hanya dengan menirukan Ebiet melantunkan satu baris awal lagu tersebut, “Perjalanan ini…” Ya, hanya dengan dua kata itu saja sudah cukup, dan itu merangkum begitu banyak hal dari dinamika budaya pop Indonesia era itu.

Di sisi lain, lirik yang kuat bisa mengintimidasi. Masih dari lagu yang sama, guru kesenian di sekolah saya dulu, SMA Negeri 1 Solo, suatu kali membahas bagian lirik yang berbunyi “mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita…” Sang guru yang merupakan seorang relijius Kristen itu mengecam lagu tersebut dengan mengatakan, “Tuhan itu tidak pernah bosan.” Lagu ‘Berita Kepada Kawan’ merupakan salah satu contoh lagu pop Indonesia dengan lirik yang kaya, dan barangkali tak akan pernah habis digali. Liriknya sangat panjang, naratif sekaligus deskriptif. Ada bagian yang menjelaskan situasi seperti ini:

Tubuhku terguncang dihempas batu jalanan
Hati tergetar menatap kering rerumputan

Lihat bagaimana Ebiet menggunakan frasa “kering rerumputan” dan bukan “rerumputan kering”. Tentu saja, selain untuk mengejar rima dengan kata “jalanan”, hal itu dilakukan sebagai usaha untuk membuat lirik tersebut terasa lebih puitis. Dengan mengisahkan sebuah “perjalanan”, Ebiet membuat metafora untuk menyuarakan jeritan hatinya atas berbagai bencana alam yang melanda negeri. Dengan cara seorang penyair, ia tak langsung menghamparkan fakta dan cerita, melainkan dengan melibatkan orang kedua, yang ia harapkan hadir bersamanya dalam perjalanan itu.

Perjalanan ini terasa sangat menyedihkan
Sayang engkau tak duduk di sampingku kawan
Banyak cerita yang mestinya kau saksikan

‘Berita Kepada Kawan’ adalah permainan metafora yang sempurna di panggung musik pop Indonesia.

9.
Mari kita lanjutkan perjalanan yang semakin jauh ini. Kita telah sampai pada penggunaan metafora dalam lirik. Perjalanan menjadi metafora favorit bagi penyanyi-penyanyi yang gemar menyuarakan tema-tema alam, lingkungan hidup dan kehidupan sosial. Franky&Jane misalnya, di awal kemunculannya dikenal lewat lagu hits berjudul ‘Perjalanan’ yang dibuka dengan suara peluit stasiun tanda kereta hendak berangkat. Lagu ini berkisah tentang si aku dalam lirik lagu yang tengah naik kereta malam sendirian pulang ke kampung halaman.

dengan kereta malam kupulang sendiri/ mengikuti rasa rindu
pada kampung halamanku/ …/pada ibu yang mengasihiku

duduk di hadapanku seorang ibu/ dengan wajah sendu/ sendu merayu
dengan rasa haru dia menatapku

Lagu ini mirip sebuah cerpen yang berakhir dengan kejutan. Ternyata, si ibu yang “menatapku” itu teringat anaknya yang telah tiada, “yang wajahnya mirip denganku.

Pada Franky&Jane, ‘Perjalanan’ menjadi cara untuk merekam denyut kehidupan orang biasa, kedukaan rakyat, seorang ibu yang mungkin menanggung kesedihan abadi karena kehilangan anak yang dicintainya untuk selama-lamanya. Tentu saja tidak banyak lirikus yang mampu mengolah metafora dengan utuh seperti Ebiet dan Franky&Jane. Kebanyakan, metafora muncul dalam lirik lagu Indonesia sebagai “sekedar” perumpaan untuk menyebut sesuatu, namun ini pun bukanlah sebuah kelemahan. Banyak perumpaan yang diberdayakan secara kreatif sehingga menjadi kekuatan dari sebuah (lirik) lagu.

Perumpaan muncul umumnya untuk menyampaikan kisah-kisah percintaan yang didramatisasi pada isu selingkuh, kegagalan memiliki orang yang dicintai hingga perbedaan agama atau kelas yang menghalangi sebuah hubungan asmara. Untuk contoh yang cemerlang, kita mesti kembali ke Gombloh. Dalam lagunya yang berjudul ‘Lepen’ dia merayu cewek dengan kalimat-kalimat yang berbunga-bunga penuh metafora:

bagiku sinar mentari tak seindah matamu
untukku elusan angin tak semulus lenganmu

Lalu, kisah pun bergulir:

malam minggu pertama aku piket
dengan sisa uang di saku hampir lengket
dengan 3 batang jisamsu
kusimpan di saku blue jeans-ku
kickers loakan menambah angker tampangku

Penggambaran adegan apel terus berlanjut namun mendadak berbelok arah ketika si aku-lirik dengan sinis menyebut gadis yang ditaksirnya itu dengan metafora yang mengisyaratkan bahwa mereka memiliki perbedaan kelas, dengan lirik seperti ini:

kupilih duduk di sudut agak remang
kutunggu keluar sang puteri Ario Penangsang

Apakah gadis incaran si-aku ini seorang ningrat –yang disimbolkan dengan seorang pangeran yang populer dalam kisah-kisah ketoprak? Anak orang kaya? Simak cerita selanjutnya:

tapi apa lacur yang keluar adalah bapaknya
dengan muka ditekuk persis kayak onta
dengan garang ia berkata
gadisku tak ada di rumah
sambil ngedumel kuberkata dalam hati: bangsat!

Inilah barangkali sedikit dari lagu Indonesia yang liriknya dengan santai meneriakkan makian yang bercitra kasar, apalagi datang dari anak muda dan ditujukan kepada orangtua. Pertentangan antargenerasi rupanya telah dimulai, di samping terasa juga adanya sentimen kelas. Si aku, yang menggambarkan dirinya sebagai lelaki miskin (dompet yang nyaris kosong, rokok eceran) yang berusaha bergaya (celana jins, sepatu loakan), menyadari siapa dirinya sejak awal, dan itu menimbulkan perasaan defensif bahkan pesimistis dalam memandang si gadis dan keluarganya.

 

10.

Kelak, di kemudian hari, di era yang sudah berubah, ketika panggung musik Indonesia didominasi oleh band-band dari kalangan anak muda, segerombolan pria bertampang rocker berambut gondrong dengan akses Sunda yang kental, tergabung dalam band bernama Jamrud, menghidupkan kembali “front” yang pernah dibuka oleh Gombloh. Lewat lagu ‘Ningrat’, Jamrud lebih terang-terangan dalam memandang gap antargenerasi sekaligus antarkelas, dengan lirik-lirik yang provokatif, sekaligus kocak:

Macarin kamu nggak jauh beda dengan main ludruk
Pake nanya silsilah golongan darah ningrat atau umum
Biar Ortumu seneng/ Pakdemu seneng/ Budemu seneng/ Mbahmu juga seneng
Kuikut saja cengar cengir mirip kebo di sawah

Aku hanya ingin bercinta/ Dengan kamu sendiri
Nggak perlu si anu si itu/ Harus gini mesti gitu
Pasti ngapelku nggak pernah romantis

Kutipan terakhir dari lirik tersebut mengingatkan kita pada apa yang pernah dilantunkan Gombloh dalam lagu ‘Lepen’ bertahun sebelumnya tadi, di mana saat dia ngapel, yang muncul adalah bapaknya dan tidak diizinkan menemui sang puteri.

11.

Terbentang di antara Gombloh dan Jamrud, Slank menyeruak dengan lagu ‘Mawar Merah’ yang slengean namun indah, santai namun penuh amarah, dan tanpa tedeng aling-aling menyikat semua basa-basi dalam pergaulan sosial. Tidak seperti Gombloh yang hanya ngatain si bapak “mirip onta” lalu memaki bangsat dalam hati, juga tidak seperti Jamrud yang berpretensi intelek dengan kotbahnya tentang perubahan zaman (ini abad baru/ bukan dunia wayang/ ngomongin darah biru/ sekarang orang ketawa), Slank langsung merangsek ke titik pusat persoalan yang menjadi penghalang hubungan asmaranya: si pria (anak) kaya itu.

Dengan lantang Slank pun sesumbar: percuma kau dekati dia/ karna cintanya pasti untukku

Lalu dengan provokatif dia menyerang: simpan saja uangmu/ bawa pergi mersimu/ enyahlah dari bunga mawarku

Tak ada, karena bagi Slank sepertinya memang tak perlu, argumen atau pun rayuan yang berbunga-bunga, melainkan cukup dengan pernyataan (baca: kejujuran) tentang dirinya yang “memang…tak mampu belikan dia perhiasan.”

Bagi Slank, yang penting “tapi kuyakin dia bahagia/ tanpa itu semua.”

Sehingga si-aku lirik tak gentar menghadapi pesaingnya ’walau… bernasib baik bapak lo kaya/ yang selalu kau andalkan untuk mendapatkannya.

Karena Slank hanya bermodal keyakinan bahwa dia bahagia tanpa itu semua (perhiasan dan kemewahan), kita tidak pernah tahu siapa pemenang dalam pertarungan antara si aku lirik yang miskin dan si pria anak orang kayak itu dalam memperebutkan si Mawar Merah.

Kelak, dalam sebuah lagu dangdut yang bagus, berjudul ‘Benang Biru’, Meggy Z seolah memberikan jawaban bahwa si aku lirik merupakan pihak yang kalah (walaupun aku kalah/ di dalam percintaan…). Lalu, dengan sendu-haru, dalam ungkapan paling sedih, si aku lirik meratap: orang lain yang berlabuh/ aku yang tenggelam.

Meggy Z memang tak menyinggung soal isu perbedaan kelas sosial. Namun, dalam kelaziman, lagu-lagu dangdut telanjur dipandang sebagai suara kaum kelas bawah. Tema pria-pria miskin yang “kalah dalam bercinta” ini sudah saya dengar sejak kecil, dari lagu-lagu folks yang biasa dinyanyikan oleh grup Karang Taruna kampung ketika mereka berlatih teater. Ada lagu yang mengandung lirik: “sekolah aku gagal/ pacaran berantakan…

Terlepas dari simplifikasi dan kecenderungan berpikir stereotip yang agak gimanaaa gitu…Slank, sebagaimana kaum lirikus yang baik dan kreatif, telah menjalankan fungsi dan perannya dalam memberdayakan lagu pop untuk mewakili suara-suara kaum terbungkam, terpinggirkan, atau bahkan tak pernah punya tempat dalam panggung pergaulan sosial. Lewat lagu ‘Mawar Merah’, untuk pertama kalinya sebuah band mengibarkan konfrontasi terbuka atas perseteruan diam-diam namun abadi antara pria-pria miskin dengan pria (anak) orang kaya yang dipandang secara miring sebagai anak-anak manja yang selalu memanfaatkan kekayaan orangtuanya dalam mencapai tujuan. “Bawa pergi mersimu” bukan hanya ungkapan kemarahan yang meledak, namun ada isyarat kebencian yang melahirkan keputus-asaan dari pria-pria yang selalu tekor, kalah, baik dalam bercinta, maupun mungkin dalam pendidikan dan karier juga.

Slank meledak dan mendapatkan tempat yang terhormat di hati publik dengan lagu-lagu yang “mewakili” seperti itu, dan melahirkan kaum pesolek kelas bawah dengan sapu tangan dilipat segitiga dan disampirkan di saku belakang celana. Mereka menggantikan kaum pesolek era Koes Plus yang ke mana-mana membawa sisir kecil, dengan celana megar di bagian bawah. Atau, gaya anak muda dalam gambaran Iwan Fals, “dengan jaket lusuh di pundaknya/ di sela bibir tampak mengering/ terselip sebatang rumput liar.”

Pesolek kelas bawah yang terwakili oleh Slank ini barangkali memang sebelumnya adalah orang-orang, atau setidaknya regenerasi dari, yang memuja lirik-lirik kerakyatan Iwan Fals yang bersimpati pada kaum pelacur (“habis berbatang batang/ tuan belum datang/ dalam hati resah menjerit bimbang/ apakah esok hari/ anak-anakku dapat makan…“) dan anak jalanan (anak sekecil itu/ berkelahi dengan waktu/ dipaksa pecahkan karang/ lemah jarimu terkepal).

Namun, berbeda dengan Iwan Fals yang yang melihat lebih luas ke dalam perubahan sosial masyarakat urban dengan ongkos-ongkosnya (“kambing sembilan motor tiga bapak punya/ tanah yang luas habis sudah sebagai gantinya“), Slank lebih menyoroti konflik di wilayah yang lebih personal dan domestik, konflik antarkelas dan lebih luas lagi, antargenerasi. Pada lagu yang jadi hits belakangan, berjudul ‘Kamu Harus Cepat Pulang’, konflik semacam itu diangkat lagi, kali ini dalam bungkus yang lebih manis, walau tetap saja tak kalah sinis dan memvonis: …mereka nggak pernah mengerti/ mereka nggak mau mengerti/ mereka nggak akan mengerti/ itu pasti. (BERSAMBUNG)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s