Orang Solo di Pekalongan

pekalongan1

Di luar dugaan, hotel yang saya pesan via Traveloka ternyata dilewati oleh bus yang saya tumpangi sebelum sampai ke terminal. Itu artinya, saya tak perlu repot-repot naik becak atau ojek dan tanya sana-sini. Saya segera bangkit dan turun, setelah sebelumnya mengantisipasi begitu bus ternyata memasuki Jalan Cipto Mangunkusumo —nama jalan yang tertera di voucher hotel— di tengah kota. Dalam 15 menit setelahnya, saya sudah mendapatkan kamar yang nyaman di hotel yang baru saja dibangun tersebut. Dan, seperti perkiraan berdasarkan data-data di situs pemesanan, hotel yang saya pilih memang terletak di lokasi yang sangat strategis. Saya tak perlu menyusun banyak rencana untuk mengisi waktu sebelum acara besok pagi, menghadiri kawinan seorang keponakan.

Keluar hotel, saya tinggal menyeberang jalan dan melangkah beberapa puluh meter dan sudah langsung sampai di alun-alun dengan masjid agungnya yang elok-megah. Jangan bandingkan alun-alunnya dengan Solo; ini jauh lebih kecil dan apa boleh buat sangat kumuh serta tertutup oleh tenda-tenda kakilima yang mengitarinya. (Meskipun alun-alun Solo kini juga jadi tempat penampungan sementara bakul Pasar Klewer yang sedang dibangun setelah kebakaran tempo hari). Hal pertama yang ingin kau coba tentu saja tauto. Ada juga lontong opor ayam kampung, tapi apa istimewanya?

Setelah kembali ke hotel dan ganti kostum, saya pun bergegas ke masjid untuk magriban. Ini bagian dari wisata juga, salat magrib di kota yang asing, ketika kau sedang jadi pelancong sesaat. Sehabis salat, hujan turun sangat deras. Maka satu-satunya pilihan adalah klesotan di serambi bersama jamaah lainnya yang tak bisa ke mana-mana.Sambil menunggu hujan reda, saya posting foto tauto yang tadi sore saya santap dengan komentar yang bernada “merendahkah”, dan membandingkannya dengan, apalagi kalau bukan, soto solo andalan saya. Bagi saya, untuk makanan sejenis, soto solo adalah segalanya.

pekalongan4

Setelah hujan benar-benar reda, saya meninggalkan masjid menuju Plaza Pekalongan yang terletak di seberang alun-alun. Kembali melewati deretan tenda kakilima, saya mulai tergoda dengan lontong opor (lagi-lagi: apa istimewanya?). Godaan itu datang dari fakta bahwa ada banyak tenda lontong opor, dan semuanya ramai. Artinya, kuliner ini memang jadi andalan di kota ini. Jadi, apa salahnya mencicipi? Hasilnya? Ya, selayaknya lontong opor yang pernah kamu kenal di dunia. Gurih, dengan ayam kampung suwir dan kuah yang mlekoh.

Kekenyangan, saya lanjutkan misi menyambangi Plaza Pekalongan. Sepi. Keluar lagi. Mau ke mana lagi? Saya berjalan tanpa arah dan tujuan. Kembali mengarah ke Masjid Agung lalu belok kanan, terus melintasi perempatan, menyususuri Jalan Hasanuddin. Berujung pada sebuah pasar, yang tentu saja sudah sepi karena sudah malam, dan bekas Plaza Borobudur. Balik lagi sebelum mentok di sebuah gereja yang terlihat dari kejauhan. Kembali melintasi tenda-tenda kakilima. Dari srabi solo hingga lumpia semarang bahkan sop kaki kambing khas Jakarta. Lalu, saya teringat, warung tempat saya makan lontong opor tadi bertuliskan “asli Batang”. Jadi, apa yang asli Pekalongan? Saya mulai berlagak sebagai seorang flaneur yang putus asa.

Lalu, saya menghibur diri, bahwa sejak tadi saya tak melihat satu pun tenda pecel lele. Ini bisa jadi kelebihan tersendiri bagi kota ini, di samping becak yang masih banyak. Di Solo becak sudah makin jarang. Saya semakin “terhibur” ketika melintasi sebuah bangunan tua bertuliskan “Sekolah Mode dan Toko Mesin Jahit”. Lalu, sederet toko “malam”, obat untuk membuat batik. Di Solo tidak ada toko toko malam. Terngiang sebaris lirik lagu Slank: kota batik di Pekalongan/ dan bukannya di kota Solo. Itu betul. Solo dan Pekalongan punya kesamaan; selain sama-sama penghasil batik, kedua kota ini ditetapkan oleh UNESCO sebagai kota warisan budaya dunia yang harus dilindungi.

Saya lahir dan besar di Solo, dan sudah sekian tahun tinggal di Jakarta. Pekalongan sebenarnya bukanlah kota yang asing. Setidaknya, pada tahun-tahun awal saya kerja di Jakarta, setiap kali pulang ke Solo selalu melewati kota ini. Saya penikmat perjalanan darat. Baru belakangan ini saja bisa “menikmati” naik pesawat, setelah memesan tiket bisa dilakukan lewat aplikasi sambil nyeruput kopi. Jauh sebelum itu, salah seorang kakak saya juga tinggal dan berkeluarga di Pekalongan selepas sekolah. Saya pernah mengunjunginya sekali, menjelang masuk kuliah pada tahun 1993. Selebihnya, Pekalongan hanyalah kota numpang lewat. Terakhir, mudik Lebaran bermobil bareng teman beberapa tahun lalu, mampir di kota ini untuk makan malam.

Kini, untuk pertama kalinya, saya berada di kota ini, sebagai orang asing yang menginap di hotel, dan bisa menikmati suasana kotanya “dari dekat”. Saya selalu menyukai dan menikmati saat-saat seperti ini. Berjalan sendirian, di kota yang asing, menyusuri jalan-jalannya yang sepi, dengan rasa kesepian yang mencekam namun bercampur dengan sensasi akan sebuah pengalaman baru.

pekalongan3

Dengan alun-alunnya yang gelap kumuh dan tertimbun kakilima, dengan jalan-jalannya yang sepi dan gelandangan serta orang gila di mana-mana, Pekalongan masih menyisakan eksotisme kota santri di mana kau masih bisa melihat pria-pria muda bersarung naik motor, atau duduk di bangku panjang mengelamuti ceker ayam di tenda lontong opor, dan itu mengingatkan pada kota-kota santri di Jawa Timur yang mungkin pernah kau kunjungi, seperti Kediri atau Bangil. Jadi, apa keistimewaan dan identitas sebuah kota? Kesunyiannya? Ketiadaan warung pecel lele? Apa saya harus mengutip Orhan Pamuk yang melakonlis, bahwa keindahan sebuah kota terletak pada kemuramannya, seperti ia tuliskan di bukunya “Istanbul?

Di Amsterdam, saya sibuk memotreti lorong-lorong sempit berbau cimeng, tempat kafe-kafe kecil nan eksotis berada, juga rumah-rumah makan kebab dan toko suvenir. Lorong-lorong seperti ini juga ada di Pekalongan, di sepanjang Jalan Hayam Wuruk, dengan gapura bertuliskan “Wisata Kampung Batik”, seperti di daerah Kauman Solo. Bedanya, di Pekalongan dan Solo tak tampak keriuhan orang berjalan kaki. Di Amsterdam, di mana-mana orang berjalan kaki, atau naik sepeda dengan kecepatan tinggi sehingga seperti melayang. Saya menyukai semua hal, dari kios-kios bibit bunga tulip, toko-toko keju, kereta yang melintas di jalan raya, membelah kerumunan orang yang berjalan bergegas-gegas dalam baju-baju hangat warna hitam.

Di Sydney, saya menghabiskan banyak waktu hanya dengan duduk di Taylor Square, mengamati pria-pria gay yang menikmati malam minggu mereka di bar-bar kecil sepanjang jalan, sebelum kemudian pergi ke klub yang paling “hot” di kota itu. Di Los Angeles, saya berkali-kali hanya berdiri di balik jendela kamar hotel, memandang keluar, ke kejauhan, ke bukit yang bertuliskan ‘Hollywood’ yang sebelumnya hanya saya lihat di film-film, sambil mendengarkan alunan lagu ‘When I Look At You’ Miley Cyrus yang sedih dan mendayu-ndayu.

Di Los Angeles, saya bahkan masih bisa menyukai pantai Santa Monica yang jelek, seperti saya menyukai kafe-kafe kecil di sekitar pantai Bondi Sydney yang sama sekali tak menarik. Untuk pemandangan pantai, Indonesia adalah surganya. Tapi, mengapa kota-kota itu seolah memberikan sesuatu yang berbeda? Apa hanya karena saya orang asing? Bahkan segalanya tampak begitu berbeda di kota tetangga di Kuala Lumpur, ketika saya berada di Bukit Bintang; keramaiannya, lalu lalang orang-orangnya, warung-warung teh tarik dan martabaknya, juga mall-mallnya. Di Los Angeles, bahkan duduk di Starbucks pun rasanya begitu berbeda, karena kau sadar bahwa kau sedang berada di Beverly Hills.

pekalongan2

Jadi, apa roh sebuah kota? Identitasnya, atau “mood” kita sendiri, yang terbangkitkan, ketika kita ada di sana? Saya orang Solo, yang sudah lama kerja di Jakarta, dalam kunjungan ke Pekalongan, dan ingat “warung padang” di sebuah pemukiman melayu di Singapura, ingat Ladies Market di Hong Kong yang tak jauh beda dengan Pasar Mampang atau pun Pasar Minggu di malam hari, ingat Sunday Market di Sydney yang mestinya juga tak jauh beda dengan pasar kue subuh di Blok M Square. Orang Solo di Pelakongan, sesaat sebelum pesta kawinan, dan teringat harum buah-buahan dan wangi roti di pagi hari di Frankfurt, dan “Sevel” Melawai yang jam berapapun kau singgah atau lewat, akan selalu melihat ibu-ibu gendut duduk tertidur di salah satu bangkunya di luar —siapa dia?

Tiap kota punya aroma masing-masing, dan “identitas” —apalagi hanya menyangkut kulinernya— hanya salah satu, dari sekian “daya tarik”, dan daya-daya lainnya yang menggugah. Martabak bangka ada di mana-mana, juga ayam kalasan. Saya ke Bandung nyaris sebulan sekali selama bertahun-tahun dan tak pernah bosan walau hanya duduk di Kopitiam Braga, atau makan nasi goreng cabe ijo di Foodcourt BIP, atau ngopi di sudut Dago yang kini telah jadi Hotel 101.

Saya bukan traveler. Saya hanya orang yang mencintai kota-kota dan berusaha menikmatinya. Saya rindu pemandangan becak di mana-mana, dan itu masih ada di Pekalongan, dan saya iri. Saya rindu melihat seorang tukang becak meringkuk di dalam becaknya dengan seluruh tubuh masuk ke sarung sambil memanteng siaran wayang kulit di radio keras-keras, menggema sampai ke ujung jalan. Seorang gadis kecil menunggui warung lumpia, dan saya membelinya karena menghargai usahanya yang luar biasa; dia bagian dari roh sebuah kota, di antara desis suara batok kelapa yang dibakar di bawah wajan berkerak, dari sebuah gerobak nasi goreng yang lewat, di sebuah jalan yang sepi di Pekalongan. Tak ada yang lebih indah dari itu, dari sebuah kota, di mana pun saja.

Advertisements

2 thoughts on “Orang Solo di Pekalongan

  1. Tulisannya sangat hidup. Membacanya jadi bisa ikut merasakan “rasa kesepian yang mencekam namun bercampur dengan sensasi akan sebuah pengalaman baru” 🙂

  2. Air mataku menetes membaca quote tentang kemuraman khas tiap kota. Bagiku memang yang berkesan justru kota-kota kecil yang kita singgahi karena lapar, cari mesjid atau ban mobil bocor/ mogok. Kesunyian itu lebih membekas daripada kota tujuan kita yang ramai dan riuh. Terima kasih telah membuatku paham sekarang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s