Destinasi atau Suasana?: Sebuah Renungan untuk Diri Sendiri tentang Seni Menikmati (Perjalanan) Hidup

bali-12

Kalau kau duduk di atas pasir menghadap Pantai Kuta, matahari akan terbit dari belakang punggungmu, dari pucuk atap Hard Rock Cafe. Itu artinya, Pantai ‘Double Six’ tidak terletak di sebelah barat melainkan utara. Tidak tepat benar, memang. Tapi, selama empat hari di Bali akhir Januari lalu, saya sama sekali tidak berjalan ke arah ‘Double Six’ seperti biasanya. Untuk pertama kalinya, dalam beberapa kali kunjungan ke Pantai Kuta sejak zaman masih kuliah, pagi itu saya berjalan ke arah selatan, ke arah Pasar Seni Kuta, ke arah landasan Bandara Ngurah Rai.

Di bagian situ, pantai tidak boleh untuk berenang. Pinggiran pantai diberi dinding tanggul batu, dan di atasnya ada jalan setapak, tempat para pegawai di hotel-hotel, resto dan kafe di sepanjang Jalan Kartika Plaza di sisi yang menghadap ke pantai, berjalan bergegas-gegas, menuju ke tempat kerja mereka, setelah memarkir sepeda motor di bawah pohon di ujung sebelumnya.

bali-11

Pemandangan di sekitar sini indah. Bayangkan, jalan di atas tanggul, sebelah kiri deretan resto-resto dan kafe-kafe yang mulai membuka dirinya, dan sebelah kanan pantai yang agak curam. Kau akan melewati sejumlah pedagang hiasan kerang. Pagi itu mendung. Memotret dengan kamera HP tidak menghasilkan gambar yang cemerlang, tapi tetap lumayan. Di bagian tengah di antara hotel-hotel itu ada sebuah mall, pura dan vila dengan kolam renang di halamannya.

Saya membayangkan, jam segini, di Jakarta orang-orang sedang menggerutu dan main klakson di perempatan lampu merah dalam perjalanan mereka ke kantor. Di sini, sejumlah pria bule tua telanjang dada lari pagi dengan anjingnya, sepasang turis Jepang yang sepertinya baru saja menikah berjalan bergandengan tangan, dan seorang polisi mengawasi seorang pekerja hotel yang tengah menata bangku-bangku restauran. Polisi itu mungkin bosan, bertugas sejak pagi, dan hanya itu yang bisa dikerjakannya ketika hari terus beranjak siang.

bali-10

Tapi, benarkah ada kata bosan di tempat seperti ini? Di Jakarta orang-orang juga sepertinya tidak bosan dengan kemacetan di pagi hari. Buktinya, mereka tetap saja kerja, kerja, kerja, dan bukannya pulang kampung untuk menanam buah naga atau membuka toko sembako. Kita tidak pernah tahu perasaan dan pikiran orang banyak; kita hanya melihat kehidupan terus berjalan, di semua tempat, dengan caranya masing-masing. Membandingkan antara satu dan lainnya hanya akan sia-sia. Benarkah di sini lebih enak daripada di sana? Hidup ini misteri. Mari memotret lagi. Ini hari terakhirmu di Bali.

Kau berjanji akan datang lagi, mungkin dua bulan atau tiga bulan lagi. Kemarin sudah jalan-jalan ke Ubud, GWK, Uluwatu. Nanti, mungkin giliran ke Sanur, atau Nusa Dua. Destinasi tidak penting. Sebab kau hanya ingin mencari suasana. Menarik atau tidak menarik, nyaman atau tidak nyaman, asyik atau tidak asyik, semua kita ciptakan sendiri.

bali-7

Saya tidak pernah percaya rekomendasi, sejauh itu urusan mencari kebahagiaan dari pelancongan. Ini hanya soal mencuri waktu sesaat dari rutinitas kerja, mengambil cuti dua hari, Senin dan Selasa, disambungkan dengan Sabtu dan Minggu. Sering-sering saja. Bukan untuk memenuhi tuntutan kekinian sebagai kelas menengah yang “banyak piknik”, tidak ada hubungannya dengan itu; melainkan, bagaimana menikmati setiap detik waktu sesuai dengan keinginan.

Hidup ini terlalu lama. Dari Senin ke Senin rasanya panjang. Ada saat kau perlu pergi ke mana, gitu, yang agak jauh dari sekedar Bandung atau pulang ke Solo. Ya, hidup ini lama, dan menikmatinya adalah sebuah seni yang memerlukan strategi. Semua disesuaikan dengan keperluan saja. Ini sepenuhnya masalah yang bersifat sangat pribadi. Sebab kebutuhan orang lain-lain. Ke Bali tapi jalan-jalan di Beach Walk, yang notabene adalah mall, dan membeli baju diskonan di H&M? Lha, kenapa tidak? Apa urusannya dengan kaum traveler yang selalu menekankan ini dan itu, kau harus ke sini dan ke situ, 10 tempat yang harus kau kunjungi bla bla bla, peduli amat.

bali-6

Saya selalu ingat seorang teman di masa SMA yang marah-marah sendiri, kenapa sih selalu ada yang bilang, naik gunung nggak sampai puncak itu rugi? Lho, rugi apa? Ayo, kita buktikan! Lalu, kami berdua naik gunung, hanya separo jalan, mendirikan tenda, masak indomie, menyeduh kopi, berfoto di atas batu, menikmati dingin dan waktu yang membeku, tidur, dan besoknya turun lagi. Dan, kami tak merasakan kerugian apa-apa.

Saya pergi ke Pasar Ubud, memotret topeng, memotret ibu-ibu yang berdoa di pura, lalu duduk di sebuah kafe di gang, untuk menikmati nasi campur, di antara turis-turis; apa itu tidak cukup? Abis itu jalan lagi melihat turis-turis China berfoto di pura di sisi perempatan di seberang kantor kelurahan. Temukan kebutuhanmu sendiri untuk menciptakan suasana yang kau inginkan, itulah inti dari sebuah perjalanan. Dengan siapa kau pergi, ke mana tujuannya, itu nomer sekian.

bali-4

Saya bisa saja kok menghabiskan waktu dengan berputar-putar di sekitaran Blok M, blusukan dari Pasaraya, lalu ke mall bawah tanah, membeli minuman di Sevel Melawai, mengulik buku bekas di basement Blok M Square, bisa saja, dan kadang-kadang memang hanya itulah yang saya inginkan, untuk menghabiskan waktu di akhir pekan. Lalu, hari akan berganti dan kau harus kerja lagi, melewati Senin sampai Jumat, dan besok Sabtu sebuah keinginan lain sudah menunggu lagi. Ikuti saja….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s