Kehidupan di Pulau

Aku menyukai kehidupan di pulau, tempat orang-orang menikmati hidup, melewatkan hari yang cerah dengan duduk-duduk di bar kolam renang depan hotel pinggir pantai sambil memandangi lalu-lalang pengendara sepeda yang mengayuh pedal pelan-pelan, seperti hendak menghentikan waktu.

kehidupan di pulau2Aku keluar dari kamar hotel pada sore hari setelah bangun dari tidur siang —sebuah kemewahan sesaat yang bisa kudapatkan di pulau ini. Kutuntun sepedaku melintasi teras resepsionis yang selalu ramai. Kamarku ada di belakang, dan hotel tempatku menginap terletak di pusat keramaian, menghadap langsung ke pantai. Sore adalah saat yang paling disukai untuk menikmati hari, melihat langit yang menghampar biru di atas gunung, dan riak air laut yang berkilau oleh pantulan sinar matahari. Jika kau menatap ke cakrawala, matamu masih terbakar oleh panas yang kian pudar.

kehidupan di pulau3Aku mengayuh sepedaku menuju arah matahari yang perlahan tergelincir di garis perbukitan. Aku menyukai keriuhan di sepanjang jalan, kesibukan para pegawai restauran yang menata bangku-bangku di atas pasir pantai, atau menyiapkan bara api untuk memanggang kerang, udang dan lobster, untuk jamuan makan malam yang mahal. Melewati pasar, kesibukan itu makin terasa. Lelaki-lelaki memasang tenda, menyiapkan warung malam hari mereka, tempat para turis berburu eksotisme negeri dunia ketiga, menyantap aneka ikan dan masakan tropis. Inilah surga bagi para pelarian, pencari bahagia, pasangan-pasangan muda bulan madu maupun perempuan-perempuan tua yang sendirian, datang dari negeri-negeri yang jauh.

Setelah pasar, kepadatan restauran dan bar makin berkurang, digantikan dengan tanah-tanah kosong bersemak, atau warung kecil milik penduduk setempat, bangunan serupa gubuk dari kayu di bawah pepohonan rendah. Atau, di bagian sini sesekali kau akan melintasi hotel-hotel mewah yang menyita areal yang luas dengan penanda-penanda yang khas, dan barangkali sudah akrab sebagai lokasi-lokasi ikonik foto-foto di Instagram. Tapi, aku lebih penasaran dengan hal-hal yang belum pernah kulihat di internet.

kehidupan di pulau1Kemarin aku sudah blusukan ke kampung atau pun menjelajahi bagian-bagian pantai yang paling sepi. Aku melihat seorang pria setengah baya dengan topi lebar duduk di pinggir pantai, menunggui kawannya, yang lebih muda, menebar jala mencari ikan. Ini bukan pulau nelayan dan pemandangan itu mengherankanku. Ternyata, dia memang bukan nelayan; mencari ikan hanya untuk mengisi waktu. Dia pendatang dari Jawa Timur, bekerja sebagai buruh bangunan di proyek sebuah hotel yang sedang didirikan. Pagi itu hujan, dan dia libur, lalu menjala ikan. Bagaimana rasanya menjadi perantauan di sebuah pulau tempat orang-orang menikmati liburan?

Di sini, kau tak ingin bekerja. Satu-satunya yang ingin kau lakukan hanyalah berguling di atas pasir, berenang sampai ke tengah perairan yang tenang tanpa gelombang di antara dua pulau, seperti kolam renang di belakang rumahmu sendiri, atau duduk-duduk minum bir. Itulah hakikat kehidupan di pulau ini, dan itulah sebabnya aku ke sini.

kehidupan di pulau9Saat blusukan kemarin, aku juga menemukan sebuah kedai yang pelayanannya sangat santai. Sampai-sampai, sepasang bule marah-marah karena pesanan nasi goreng mereka datang terlalu lama. Tapi, bule lain, seorang perempuan yang duduk sendirian, tampak seolah tak terganggu dengan layanan yang lama itu. Ia duduk menikmati detik demi detik sambil membaca, kuintip sampul bukunya, novel ‘Goddess of Vengeance’ karya Jackie Collins. Di sini, turis-turis tua menikmati kesendirian mereka. Seperti yang kulihat pada suatu malam, ketika hujan deras mendadak turun, dan menahan orang-orang yang selesai menikmati makan malam di sebuah warung tradisional.

kehidupan di pulau5Hari-hari berikutnya, aku kembali melihat perempuan tua itu, hampir di mana-mana. Kubayangkan, dia pensiunan dosen filsafat di sebuah universitas di negeri Eropa, seorang feminis di masa mudanya atau minimal, penganut Marxisme ketika masih mahasiswa. Kini, ia menikmati hari tuanya, dengan jalan-jalan di pulau, di negeri tropis yang jauh. Betapa! Aku ingin menikmati hidup seperti cara dia melakukannya; sendirian, asik, tak terganggu dengan apapun yang ada di sekitarnya, tapi selalu ada di mana-mana, ingin tahu, ingin terlibat, namun tetap terasa menjaga jarak. Diam menghadapi apapun, tak terusik oleh sapaan atau godaan untuk bicara dengan orang lain.

Ketika ia akhirnya bangkit dan membuka payungnya saat hujan mulai agak reda, dan siap melangkah pergi, kubilang padanya dengan nada basa-basi keramahan timurku, “Hati-hati!” dan dia hanya mengangkat bahu, tanpa menoleh ke arahnya, tapi kelihatan bahwa ia mendengarku.

kehidupan di pulau4Sore ini, aku ingin melihat orang memandikan kuda. Aku sedang mengayuh sepedaku ketika gemuruh menyergap dari belakang. Ternyata derap kaki-kaki kuda yang dipacu kencang-kencang. Dua ekor kuda tinggi besar melaju dengan seorang penunggang di atasnya masing-masing seorang pria muda bertelanjang dada dan satunya bocah yang masih sangat belia. Aku terhenyak untuk sesaat, menghentikan sepedaku di pinggir pembatas antara jalan dan pasir pantai. Lalu, menyadari, itu dia, orang-orang yang akan memandikan kuda. Kupacu sepedaku kencang untuk menemukan di sisi pantai mana dua penunggung kuda itu berhenti.

Ternyata, di bagian pantai paling sepi yang kemarin kujelajahi dan berjumpa dengan “nelayan” dari Jawa itu. Kemarin aku sempat bertanya padanya perihal orang-orang yang memandikan kuda, tapi dia tak tak bisa memberikan jawaban dengan jelas. Ternyata di situ! Kusandarkan sepedaku di pokok pohon perdu. Dua penunggang kuda yang tadi menyalipku sudah di sana, dan di dalam air sudah ada beberapa kuda lain yang sedang dimandikan. Seorang pria dengan kamera bertripod mengabadikan adegan itu. Dari jarak yang agak jauh, sejumlah turis juga sudah berderet, langsung sibuk jeprat-jepret. Kuda-kuda dan pria-pria terekam sebagai siluet dengan latar belakang sunset.

kehidupan di pulau6Aku menyukai semua itu. Matahari yang tenggelam, orang-orang yang memotret dan sore yang beringsut meninggalkan hari. Lalu, aku bergabung dengan lelaki-lelaki bar yang menyiapkan api unggun di atas pasir. Bar itu ada di seberang jalan, dan mereka hilir-mudik mengusung serpihan ban untuk memperbesar api. Dari arah bar mereka, terdengar ‘Karma Police’ dalam irama regggea yang sendu, seperti ingin memperpanjang sore dan menunda malam. Tanpa sadar aku bersenandung menirukan lagu itu. Bukit di sebelah sana semakin tampak suram di mata. Kesunyian mengepungku.

kehidupan di pulau7Seorang perempuan yang duduk di balok kayu pinggir pantai perlahan berubah jadi lukisan hitam di atas kanvas kelabu. Gelas-gelas kosong bekas jus buah, dan botol-botol minuman bergelimpangan di sisinya, juga mulai tertelan tirai hitam malam yang turun perlahan, menjadi lukisan lain tentang benda-benda dan alam yang membisu. Semua orang yang ada di situ menjadi bayang-bayang, sementara api unggun makin menjilati udara, membuat percik-percik di pucuk bara dari kayu dan ban yang hangus, seperti kembang api di tangan anak-anak yang berlari-lari.

Kuda-kuda yang telah selesai dimandikan mungkin sudah kembali ke kandang. Seorang turis Jepang, perempuan muda berambut ikal yang fasih berbahasa Indonesia, memandangi binatang-binatang gagah itu, sebelum menjauh dan benar-benar hilang di tikungan jalan, seperti menyaksikan sebuah perpisahan yang sedih. Sebentar lagi malam akan sempurna oleh aroma seafood atau jagung yang dibakar dan busa bir yang melimpah dari gelas, mengirimkan bau harum sampai ke pinggir-pinggir karang.

kehidupan di pulau8Besok hari terakhirku, dan aku berharap cuaca akan baik. Aku akan bangun pagi, menikmati birunya air sebelum orang-orang menyelesaikan sarapan mereka, di kamar-kamar berbentuk rumah adat Sasak, serupa segitiga, serupa kemah-kemah yang hangat. Aku akan membiarkan tubuhku berlama-lama di dalam air, sampai membiru, sampai mataku perih oleh sinar matahari yang terus meninggi, membakar perbukitan di sisi barat, menandai berulangnya kehidupan di pulau, yang akan memanggilku datang kembali.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s