Menjadi Orang Asing yang Tak Asing

Dari lantai 37 gedung kantor televisi China CCTV yang luas dan megah, kami bisa melihat belantara gedung-gedung menjulang kota Beijing di sore hari dari beberapa sudut. Tapi, tak hanya itu, dan yang lebih ingin ditunjukkan oleh sang tuan rumah sebenarnya adalah ruangan kosong dengan tiga bulatan kaca di lantainya. Dari situ, kita bisa melihat ke bawah dengan perasaan yang tak bisa dilukiskan. Tak seorang pun yang berani melintasi, atau apalagi sejenak berdiri di atas bulatan kaca itu. Rasanya seperti…ya, itulah rasanya berada di sebuah ketinggian; melihat ke bawah, jantung seperti hendak copot.

“Tapi, ini bukan tempat umum ya, jadi jangan di-posting di medsos,” pesan pemandu kami sore itu, sebelum kami —rombongan 22 pimpinan dan awak media dari 15 negara— berpamitan. Kunjungan ke kantor CCTV merupakan satu dari rangkaian jadwal yang cukup padat dan melelahkan, tapi juga menyenangkan, selama 10 hari diundang ke China. Delapan hari di antaranya, kami diajak blusukan ke beberapa kota di propinsi paling barat, Xinjiang, dan dua hari terakhir ditutup dengan kunjungan ke Beijing.

Sebelum tiba di ibukota China itu, kami masih menduga-duga kira-kira apa agendanya nanti; apakah berwisata ke Great Wall yang legendaris itu termasuk dalam jadwal? Kami baru tahu rangkaian acaranya setelah berada di bus yang mengantarkan kami dari bandara ke hotel. Dua hari terakhir! Setelah delapan hari berpindah-pindah ke tiga kota di Xinjiang. Rasanya tinggal sisa-sisa tenaga. Tapi, bagaimanapun, ini akan tetap menjadi bagian dari acara yang menyenangkan.

Kunjungan ke China di pengujung April itu memang tak pernah saya duga. Saya mendapat telepon dari pemimpin redaksi ketika tengah cuti dan bersantai di pantai di Gili Trawangan. Ke China? Acara apa? Dan, kenapa saya? Apa, sepuluh hari? Lama sekali!

Sampai ketika saya mengurus visa, dan bertemu dengan orang dari kedutaan China di Jakarta, seorang perempuan muda yang hangat dan cepat akrab, saya masih belum mendapatkan gambaran yang sangat jelas mengenai acara ke China nanti. Miss An, demikian staf kedutaan itu saya sapa, juga tak bisa menjelaskan dengan rinci dan detail. Yang jelas, nanti para wartawan akan ditunjukkan mengenai kehidupan beragama di China. Dan, media tempat saya bekerja merupakan satu-satunya dari Indonesia yang diundang.

Waduh. Berarti dari Jakarta saya akan berangkat sendiri, melintasi sekian jam penerbangan dalam kesunyian….

Pesawat saya transit di Guangzhou, lalu dari kota itu terbang ke Urumqi. Petugas check in di Bandara Soetta mengerutkan keningnya, “(Urumqi) ini kota di China juga?”

Jadi, saya akan mengunjungi sebuah kota, tepatnya sebuah ibukota salah satu propinsi di negara besar, yang ternyata relatif tak dikenal. Saya tak berani membayangkan apa-apa. Tapi, selama beberapa hari sebelum keberangkatan, saya tentu sudah browsing di internet untuk mendapatkan gambarannya. Sepertinya akan menjadi petualangan yang tak biasa.

Keluar dari Bandara Urumqi, saya celingukan dan sampai beberapa saat tak menemukan seseorang dengan papan karton bertuliskan nama saya. Sampai akhirnya, tiba-tiba, sesosok pria muda berjas biru menyembul dari kerumunan para penjemput, dan sambil menunjukkan sebuah name tag yang dikalungkan di lehernya, dia mengagetkan saya, “Is it you?” Tatapan saya langsung tertuju pada name tag itu, dan, ya…itu foto dan nama saya.

Saya pun langsung mengikuti langkahnya. Ketika menyeberang jalan, sebuah suara menyebutkan sebuah nama yang sepertinya disengaja untuk menarik perhatian saya, “In-do-ne-sia….”

Saya menoleh ke arah suara itu, dan tersenyum, sebelum kemudian mempercepat langkah untuk menjajari penjemput saya. “Bagaimana orang itu tahu, saya dari Indonesia?” tanya saya mengenai pria yang sepertinya penjaja jasa transportasi tadi.

***

Keesokan harinya, saat makan malam di hotel, saya bercerita pada penjemput saya itu bahwa siang tadi saya sempat jalan-jalan keliling tempat-tempat keramaian di sekitar hotel, dan dia pun bertanya, “Apakah ada orang yang mengajak Anda bicara atau menyapa Anda?”

Saya menggeleng. Pertanyaan penjemput saya itu merujuk pada jawaban atas pertanyaan saya mengenai orang yang mengenali saya sebagai orang Indonesia di bandara kemarin. Menurutnya, sebagai orang yang datang dari negeri berpenduduk muslim, wajah saya tidak asing di kota itu. Urumqi adalah kota yang dihuni suku Uighur, kaum minoritas Islam di China, dan Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim cukup dikenal di sini.

Saya pun membatin, menarik juga bahwa saya dikenali orang berdasarkan identitas agama saya, berdasarkan asal usul saya, berdasarkan fakta bahwa negeri saya berpenduduk mayoritas Islam. Mendadak saya merasa bahwa saya tidak sedang berada di sebuah negeri yang jauh, di bagian paling barat China. Saya merasa sebagai orang asing yang tidak asing. Hal itu makin terasa ketika pada hari-hari berikutnya, di sela acara seminar dan berbagai kunjungan ke sana kemari, saya selalu menyempatkan diri untuk jalan-jalan di sekitar hotel.

Di depan hotel, jalanan diberi pagar karena ada pembangunan jalur MRT. Ini sama seperti di Jakarta. Ketika saya berdiri di jembatan penyeberangan, baru tersadar bahwa Urumqi juga mempunyai jalur busway, seperti Jakarta juga. Turun dari jembatan, pada suatu petang, saya melihat sepasang suami istri penjaja makanan kakilima yang berbusana muslim.

***

Terinspirasi oleh fakta-fakta itu, saat jamuan makan malam resmi dengan para pejabat setempat, dan satu per satu wartawan memperkenalkan diri, saya dengan bangga mengatakan bahwa saya berasal dari Indonesia, negara berpenduduk muslim terbesar di dunia. Dan, kolega-kolega saya sesama wartawan dari Pakistan dan negara-negara Arab lainnya sama sekali tidak memprotes klaim saya itu, malah sebaliknya, justru manggut-manggut.

Namun, di hati kecil saya, sebenarnya ada jerit lirih yang menggores perih dalam dada. Sebab, pada saat yang bersamaan, negeri yang saya banggakan hingga ke tempat yang sangat jauh di propinsi paling barat China itu, sedang bersitegang dan terkoyak-moyak oleh sentimen agama; di mana orang-orang sesama muslim saling melontarkan ujaran kebencian dengan sengit, mengkafirkan sesamanya, memfitnah satu sama lain demi membela kepentingan masing-masing dalam Pilkada Jakarta.

Sambil menyantap aneka sajian yang lezat, dan sesekali bersulang dengan mengacungkan gelas-gelas anggur, diam-diam saya merasa asing dan sunyi. Di sini, di wilayah ini, negeri saya barangkali jadi panutan, sebuah negeri berpenduduk muslim yang menjadi kiblat sebuah propinsi yang merupakan wilayah otonomi di sebuah negera komunis terakhir di dunia yang sangat makmur. Dan, hal itu memang terkonfirmasi ketika pada suatu hari, kami diajak berkunjung ke Xinjiang Islamic Institute, dan pemimpin lembaga itu menyebut-nyebut Indonesia —dan Malaysia— sebagai negara-negara berpenduduk Islam yang mereka hormati dan teladani.

Para wartawan lain menoleh dan mencari-cari wajah saya ketika nama “Indonesia” disebut-sebut, dan lagi-lagi saya tak bisa lain kecuali berbangga hati. Harum nian nama negara saya di sini. Ah, biarlah hanya saya yang tahu bahwa politik pilkada telah memecah-belah sebagian besar orang-orang Islam di negeri saya, dan saya memutuskan untuk tetap bangga sebagai warga negara Indonesia, negara berpenduduk Islam terbesar di dunia itu.

Bagi saya, memang tak ada alasan untuk berkecil hati hanya karena dampak Pilkada Jakarta yang tak ada habisnya itu. Saya langsung teringat, beberapa minggu sebelum berangkat ke Urumqi, seorang teman menyeret-nyeret saya ke Bandung, ke sebuah jalan di daerah dekat Pasar Baru yang padat dan sibuk. Dia tahu, saat itu saya sedang mengurus visa untuk kepergian saya ke wilayah Islam di China, dan oleh karenanya dia menunjukkan kepada saya sesuatu. Sebuah masjid berarsitektur China di Jalan ABC.

Sejenak saya terkesima. Bandung bagi saya sudah menjadi kota yang tak asing, namun baru kali itu saya tahu ada penampakan seperti itu. Masjid itu bernama Al Imtizaj, tak jauh dari area yang barangkali telah banyak diakrabi oleh para pelancong hipster di Bandung, yakni Kedai Kopi Aroma di Jalan Banceuy. Saya pun langsung sibuk jeprat-jepret memotret setiap sudut masjid itu. Bahkan, usai melaksanakan Salat Dhuhur, saya memotreti sisi-sisi bagian dalamnya. Sebelum meninggalkan masjid itu, saya melihat beberapa pria keturunan China, sepertinya pengurus masjid, tengah berbincang di depan pintu gerbang.

Di Urumqi, saya melihat wajah-wajah yang sama: wajah-wajah China dengan topi kupluk yang menandakan simbol khas seorang muslim. Di sebuah museum yang saya kunjungi, saya menyaksikan seorang anak muda dengan fasih membaca tulisan Arab yang tertera pada salah satu artefak benda bersejarah yang menarik perhatiannya.

“Kamu baca tulisan ini?” tanya saya memastikan, bahwa yang dia baca adalah keterangan dalam tulisan Arab, karena memang ada dua tulisan, yang satunya dalam huruf Mandarin.

“Ya!” jawabnya mantap sambil mengangguk. Dia warga asli Urumqi, dari suku Uighur, dan oleh karenanya, wajah Chinanya tidak memustahilkan kenyataan bahwa dia seorang muslim.

Tulisan Arab dan China berdampingan di mana-mana di Urumqi, dan kota-kota lain di Propinsi Xinjiang. Dan, wajah-wajah China bertopi kopiah khas seorang muslim juga terlihat di mana-mana. Seperti masjid di Jalan ABC, Bandung itu, pemandangan tersebut seolah mengatakan bahwa China dan Islam itu bukan dua hal yang harus selalu dipandang saling asing. Dan, hal itu semakin membuat saya merasa menjadi orang asing yang tak asing selama di Urumqi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s