Leo Kristi, Kiaracondong, dan Keadilan Sosial

Lewat Kiaracondong, kereta laju/ panorama di sana memaksaku tersenyum

Itulah sepenggal lirik lagu Leo Kristi (1949-2017) yang barangkali termasuk salah satu yang paling melekat di benak penggemarnya. Layaknya penyanyi yang besar dan dikenal di genre “folk“, Leo memang banyak menggarap tema-tema kerakyatan, yang antara lain disimbolkan dengan kereta api. Itulah yang terjadi pada Bob Dylan, Iwan Fals hingga Franky Sahilatua.

Kereta adalah pesona bagi penyanyi-penyanyi jenis ini, untuk mendekatkan diri pada rakyat sejati, orang kebanyakan, yang selalu diam, sering tampak sedih, serta memendam kepedihan diam-diam pada kehidupan.

Orang pun akan selalu ingat dengan lagu Franky&Jane yang berjudul Perjalanan, sebuah balada sendu yang berkisah tentang pertemuan di kereta dengan “seorang ibu” dalam perjalanan “dengan kereta malam/ kupulang sendiri“.

Perjalanan selalu membawa pada pertemuan, dan pertemuan selalu menguak cerita-cerita yang tak terduga, dan pada lagu-lagu folk, biasanya tentang kemiskinan rakyat. Dia lalu bercerita tentang/ Anak gadisnya yang tlah tiada/ Karna sakit dan tak terobati….

Pada Ebiet G Ade, perjalanan bisa “terasa sangat menyedihkan” dan “seperti jadi saksi” tentang “gembala kecil” yang “menangis sedih”. Bapak ibunya telah lama mati/ Ditelan bencana tanah ini (Lagu “Berita Kepada Kawan’).

Namun, panorama dalam lagu ‘Lewat Kiaracondong’ Leo Kristi justru “memaksaku tersenyum”. Meskipun, bukan berarti senyum yang menggembirakan. Melainkan senyum yang bisa dimaknai secara berbeda, setelah kita menyimak apa yang dilihatnya:

Bocah-bocah tak berbaju/ Berlari lari di sepanjang tepi/ Di setiap detak roda yang ke lima/ Bergerombol bocah-bocah/ Bermain gundu, kuda pelepah/ Mengejar layang, lambaikan tangan…/ Oh, bilakah mereka lambaikan buku dan pena di tangan/

Lewat Kiaracondong, kereta laju/ Seorang gadis telanjang dada/ Basah rambutnya berkeramas /Sempat kulihat tisik kainnya/ Di balik dinding bambu/ Reot dan tak beratap

Ketika lewat Kiaracondong/ Matahari tidur di balik gunung/ Ketika lewat Kiara Condong/ Tuan-tuan tidur di sejuk gunung

Kiaracondong adalah sebuah kawasan sekaligus nama salah satu stasiun kereta di Bandung. Kota ini agaknya memang punya kesan tersendiri bagi penyanyi kelahiran Surabaya itu. Menjelang akhir hayatnya, ia juga dirawat di rumah sakit di kota yang dipimpin oleh Ridwan Kamil tersebut.

Tentu saja, hari-hari itu, penyanyi dengan nama lahir Imam Sukarno itu sudah tak sempat lagi blusukan di sekitar Kiaracondong, yang pasti sudah banyak berubah dibanding saat pertama kali lagu itu digubahnya pada akhir 70-an. Begitulah, bagi Leo Kristi, keluyuran dan perjalanan menjadi sumber kreativitasnya dalam berkesenian.

Gambaran tentang bocah-bocah yang bermain di sepanjang tepi rel barangkali lumrah saja untuk segala zaman. Tapi, bagi yang tak begitu mengakrabi lagu-lagu Leo Kristi, barangkali akan bertanta-tanya, mengapa harus menyebutkan “detak roda yang kelima”? Mengapa “yang kelima”? Bukan yang keenam atau kesepuluh?

Itu semua tak lepas dari ciri khas Leo yang selalu bicara dengan bahasa simbolis, yang dikaitkan dengan kebangsaan dan keindonesiaan. Roda yang kelima dimaksudkannya untuk melambangkan sila kelima Pancasila. Seperti yang kemudian ia lantunnkan secara deklamasi di bagian akhir lagu.

Pada lagu lain, yang berjudul Sendiri, sebuah balada sedih nan menyanyat hati, Leo menyebut-nyebut “meja kayu, sepasang kursi, dan bunga mawar merah dan putih”. Mengapa merah dan putih? Lagi-lagi, orang akan dengan mudah mengasosiasikannya dengan bendera negeri ini. Walaupun, lagu itu sendiri sama sekali tidak bercerita tentang, katakanlah, bangsa dan negara, melainkan tentang perpisahan. Simak liriknya yang perih:

Meja kayu, sepasang kursi/ Bunga mawar merah dan putih/ Nyala lilin, sinar bintang/ Sonata lembut petikan gitar/ Sejuta genta di dalam hati/ Sejuta benang engkau terpisah/ Tak terjangkau oleh tangan/ Jalinan panjang rambutmu sayang/ Engkau sendiri kini/ Aku sendiri kini/ Slalu kita bersama/ Walau hanya di hati

Dibandingkan dengan penyanyi-penyanyi sejenis, atau seangkatannya, sebut saja yang memang paling dekat dengannya, yakni Gombloh (1948-1988), dan juga Franky (1953-2011), Leo memang berbeda. Ia menempuh jalan sunyi, sendiri dengan “sonata lembut petikan gitar”-nya, yang tak jarang kadang juga terdengar garang. Pun jika dibandingkan dengan Ebiet, yang popularitasnya demikian mengguncang di awal 80-an, sampai-sampai pernah dijuluki “raja sehari”. Leo jauh dari gemerlap dan godaan popularitas seorang bintang.

Gombloh, yang pernah satu band dengannya dan Franky dalam The Lemon Tree, meraih popularitas besar dengan pilihannya di jalur “pop” setelah meluncurkan album solo mulai 1983, selepas mereka dikenal dengan lagu-lagu “kebangsaan” seperti Kebyar-kebyar (1979) yang menjadi legendaris; juga album-album yang hingga kini terus dikenang, seperti Sekar Mayang (1981) dan Berita Cuaca (1982).

Sebagai penyanyi Solo, Gombloh (nama asli Soedjarwoto Soemarsono) benar-benar “menggila” di zamannya lewat album-album seperti 1/2 Gila (1984) dan Semakin Gila (1986). Salah satu lagu hits-nya yang kemudian menjadi “lagu rakyat” adalah ‘Kugadaikan Cintaku’, yang pada masanya berhasil menggemakan senandung di mana-mana lewat baris pertama lirik lagu itu: Di radio/ aku dengar/ lagu kesayanganmu….

Sedangkan Franky, selain juga dikenal sebagai anggota grup duo dengan adiknya, Jane, kemudian juga meraih popularitasnya yang besar dalam kariernya di masa-masa bergabung dengan Iwan Fals dkk. Lalu, di manakah Leo Kristi saat itu? Ia tetap berada di “tepi-tepimu”, “mengetuk pintu” para penggemar fanatiknya dengan konser-konser gratis, antara lain di Taman Ismail Marzuki dan di pusat-pusat kebudayaan seperti Bentara Budaya.

Leo Kristi barangkali nyaris satu-satunya penyanyi keras kepala di negeri ini, yang abai pada banyak hal yang kerap dikaitkan dengan kemapanan dan ketertiban —termasuk, sekali lagi popularitas. Ia semaunya sendiri, mengikuti kata hatinya, dan berkelana. Namun, hal itu sama sekali tak membuatnya lantas tak punya penggemar.

Sebaliknya, penggemarnya sungguh fanatik, mengoleksi dan terus memburu album-albumnya, yang mungkin tak pernah ditempeli label “best seller“, namun abadi di sanubari penikmatnya —dan di lapak-lapak kaset bekas diperlakukan sebagai barang langka dengan harga selangit.

Dan, bicara soal pengaruh, tak diragukan lagi, pengaruh musik Leo Kristi dalam jagad musik di Indonesia bahkan tetap bisa dirasakan hingga ke era-era belakangan ini, dari Sujiwo Tejo hingga Silampukau. Bahkan, harmonisasinya berjejak pada band macam Barasuara, yang begitu digemari kaum hipster perkotaan.

Khususnya pada Silampukau, misalnya, mungkin karena sama-sama berasal dari Surabaya, suara Leo Kristi seperti menemukan “lanjutannya” pada lirik-lirik seperti “tahun kian kelabu/ makna gugur satu-satu dari seluruh pandanganku/ kota tumbuh kian asing kian tak peduli/ dan kita tersisih di dunia yang ngeri dan tak terpahami.” (Lagu Balada Harian dari album Dosa, Kota & Kenangan, Moso’iki Records, 2015)

Begitulah, dari Leo Kristi hingga Silampukau, terlihat betapa “dunia punya luka yang sama”. Tapi, “kita tetap membenci airmata.”

Dengan posisinya yang konsisten dan tanpa kompromi, Leo justru tak pernah ditinggalkan oleh zaman, karena ia berdiri di tempat yang berbeda, “memelihara agar tetap hijau, dalam kebiruan”. Lagu-lagunya tak lekang, karena ia bicara dengan bahasa simbol yang universal dan melintasi generasi. Kalau pun ia menyelipkan “kritik sosial” di dalamnya, maka itu tidaklah dilakukan dengan kemarahan atau bahasa yang lugas meledak-ledak, sinis-keras, seperti posisi yang pernah diambil oleh Iwan Fals pada suatu masa.

Seperti dilakukannya dalam lagu ‘Lewat Kiaracondong’ tadi, hanya dengan menggambarkan suasana kehidupan pinggir rel kereta, lalu memainkan simbol “roda yang kelima”, yang diikuti dengan deklamasi “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”, Leo dengan tajam telah menyindir ketimpangan sosial di balik klaim-klaim kesuksesan pembangunan Orde Baru.

Kini, Leo Kristi sudah berpulang ke rahmatullah. Ia telah menempuh perjalanan yang lain; adakah panorama di sana yang memaksanya tersenyum? Setidaknya, ia masih sempat mengalami Zaman Reformasi, tumbangnya pemerintahan yang dikritiknya, dan menyaksikan negeri yang dicintainya, yang mengilhami dan menginspirasi lagu-lagunya, mengalami perubahan.

Walaupun, soal keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, orang masih bisa terus memperdebatkannya, apakah sudah terwujud sesuai harapan semua pihak. Jika sudah, maka Leo Kristi mungkin bisa melanjutkan pengelanaannya dengan senyum. Jika belum, maka lagunya akan terus menjadi pengingat akan cita-cita luhur itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s