Solo 2017: Sebuah Catatan Kepulangan

untuk Anjas dan Ariyanto

tengah malam dingin/ gairah kehidupan tak undur/ manusia seperti patung-patung/ kantuk di kedalaman bunyi gamelan

solo2017-5Aku memetik bunga kemuning yang tumbuh di depan rumah, menaruhnya di gelas dan memajangnya di atas meja ruang tamu sehinga aroma harum lembut semerbak memenuhi udara malam yang dingin. Aku memotret gang-gang sepi, ketika anjing-anjing milik pendeta gereja dekat rumahku bermain-main di pelataran. Ketika pulang ke kampung halaman, hal-hal biasa jadi tampak begitu menarik dan bermakna. Bahkan jajanan oleh-oleh ibu dari pasar pun seolah melambai-lambai, minta dipotret juga untuk dipamerkan di Path (karena aku tak punya akun Instagram), agar teman-temanku berkomentar tentang kerinduan pada masa lalu.

Tapi, adakah yang benar-benar berlalu?

Salah satu yang menarik dari kota ini adalah sudut-sudut yang tak pernah berubah, kata temanku, Anjas Wijanarko. Bersama Anjas dan Ariyanto, salah satu agenda terpentingku saat pulang ke Solo adalah wedangan di warung Pak Kemin dekat Monumen Pers Nasional yang gelap temaram dan eksotik. Anjas adalah mantan pemain teater di kampus yang masih memendam obsesi untuk mementaskan sebuah lakon di tengah kesuksesannya sekarang sebagai pengusaha dan eksportir. Ariyanto adalah redaktur senior koran terbesar di Solo yang belakangan menekuni dunia buku langka, menjualnya lewat internet sekaligus menjadi konsultan bagi sejumlah kolektor dokumen-dokumen bersejarah.

Bertiga, kami berbincang ngalor-ngidul tiada juntrungannya, dari isu politik terkini hingga tren minum kopi yang baik dan benar di kalangan anak muda perkotaan. Jika sudah menyangkut soal itu, Anjas akan dengan masygul berkata, “Sejak dulu minum kopi itu ya pakai gula, manis…kenapa sekarang jadi banyak aturan?”

solo2017-7Ya, kami menyukai hal-hal yang tak pernah berubah, seperti Anjas yang berkali-kali mengomentariku di sela obrolan, bahwa meskipun sudah lama di berkarier dan menjadi seleb di Jakarta (ehm!), aku masih seperti yang dia kenal saat kuliah dulu. “Tidak seperti si anu yang kalau ngomong pake lu gue lu gue,” katanya. Dibilang tidak berubah, sejatinya aku tidak tahu harus senang dan bangga, atau sedih dan merana. Jadi, Jakarta tidak mengubahku —tetap “seperti” mas-mas Jawa Solo dengan lelucon-lelucon gaya Srimulat-an?

Yang jelas, aku setuju dengan Anjas soal kopi dan daya tarik kota ini. Di rumah, setiap kali bikin kopi aku tetap menambahkan gula yang banyak —siapa peduli rasa kopinya akan rusak atau hilang seperti dibilang orang-orang itu ha? Untuk urusan kesenangan dan kebahagiaan, jangan tanya orang Solo. Inilah kota yang tak mengenal eh teh manis, karena semua es teh otomatis manis. Jangan pernah memesan es teh tawar saat makan bersama orang Solo di restauran, kamu akan dilihat dengan tatapan penuh rasa kasihan, dan paling apes akan dengan sini di-semoni: menderita sekali sih hidupmu, memesan teh dengan gula saja tidak mampu, sini aku bayarin! Hahaha…

Es teh adalah budaya Solo hari ini. Duduklah di warung wedangan siang hari, dan kau akan menyaksikan orang-orang datang dan pergi memesan es teh dalam bungkus plastik untuk dibawa pulang. Jangan bayangkan es teh ala restauran yang dibuat dari teh celup, bening, dengan es batu yang nggak niat dan rasa yang menyedihkan. Es teh di Solo tetaplah kental pekat, ada rasa pahitnya, dan sudah pasti manis luar biasa, dengan bongkah-bongkah es batu putih berkilau.

Untuk es teh khas Solo ini, kakak perempuanku sampai ketagihan bikinan warung wedangan dekat rumah dan bela-belain beli walaupun untuk urusan sesepele es teh sebenarnya bisa bikin sendiri di rumah. “Es tehnya enak banget,” katanya.

Frasa “enak banget” sungguh serius ketika dilekatkan pada “es teh”. Dan, ketika orang Solo yang dikenal “penuh perhitungan” sampai rela membeli es teh di warung, itu artinya sebuah perubahan sosial memang tengah terjadi. Di masa lalu, minimal dalam keluarga tertentu, membeli sesuatu yang bisa dibikin sendiri di rumah itu sungguh tabu. Secara umum, jajan di warung juga dianggap tabu bagi orang Solo zaman dulu. Kalau kamu beli makanan di warung, sebaiknya dibawa pulang dan dimakan di rumah; itu masih bisa diterima. Tapi, kalau sampai nongkrong dan makan di warung itu —istilahnya “ngiras”- waduh, bisa distigma negatif.

Namun, kini banyak hal memang telah berubah. Kapan terakhir kali kamu mendengar orangtuamu bilang “ora ilok” alias “tidak pantas”? Sudah tak ada lagi yang pantas dan tak pantas, yang ada hanyalah tren yang entah bagaimana awalnya kini telah menjadi kelaziman. Kecuali, untuk sudut-sudut kota tertentu tadi, yang tak pernah berubah, Anjas benar bahwa itulah salah satu daya tarik kota ini, dan menjadi sumber kerinduanku untuk selalu pulang.

Aku biasa melintasi Pasar Legi di malam hari hanya untuk menyaksikan bakul-bakul nangka terkantuk-kantuk di pinggir jalan. Malam-malam jualan nangka, siapa coba yang mau beli? Nyatanya hal itu ada, dan tak pernah berubah dari dulu.

solo2017-4Di era awal 80-an penyair Kriapur menggambarkan kota Solo dengan stereotip, ketika mengidentikkan suasana dengan simbol-simbol seperti gamelan. Nyatanya, sampai sekarang pun, apa yang dilukiskan Kriapur tak pernah luntur. Saat pulang menjelang Lebaran kemarin, aku melewati depan Balai Kota dan terpaksa berhenti, karena di halaman kantor walikota tersebut tengah digelar wayang kulit. Dalangnya Ki Warseno ‘Slank’. Ketika aku lewat, ki dalang tengah membabar adegan yang gawat dan mengharu-biru: Drupadi tengah berbincang dengan Kresna mengenai perlakuan memalukan yang dialaminya, yang kelak memicu perang besar Pandawa dan Kurawa. Orang-orang larut dalam kemarahan Drupadi yang berkobar-kobar.

Tentu saja tidak setiap malam ada pergelaran wayang kulit di Solo, tapi kalau kamu memang niat, di Sriwedari ada pentas wayang orang setiap malam. Di samping itu, sudah tiga tahun terakhir ini, Pemda Solo mengagendakan pementasan gratis Sendratari Ramayana yang megah di Benteng Vantenburg untuk menyambut musim libur Lebaran. Walikota solo FX Hadi Rudyatmo selalu ikut main.

Tidak ada yang stereotip di Solo. Unsur-unsur itu menyatu sebagai bagian dari keutuhan yang membentuk identitas kota, yang membuat gairah kehidupan tak undur. Menjamurnya kafe-kafe wedangan toh tak mengurangi sedikit pun jumlah wedangan angkring di tiap gang. Wedangan Pak Kemin juga masih selalu jadi jujugan turun-temurun, dengan menu-menunya yang khas, yang tak akan kamu jumpai di wedangan model kafe. Pernah dengar makanan namanya apolo? Itu jadah yang dibakar, di dalamnya disisipi bubuk coklat. Dan, jangan heran kalau di wedangan “tradisional” macam Kemin kau menjumpai bapak-bapak yang memesan wedang jahe tape ketan.

Saat libur Lebaran tahun lalu, secara tak sengaja kami berjumpa dengan Gundul Gunawan, sineas asal Solo yang berada di balik sukses film Aisyah, Biarkan Kami Bersaudara. Aku kaget, ketika dia memesan minuman coklat panas yang ditambahkan tape ketan ijo di dalamnya, dan dia memesan sampai dua kali. Tidak pernah ada yang “baik dan benar” dalam urusan memanjakan lidah bagi orang Solo. Umar Kayam dalam kolomnya yang legendaris di Kedaulatan Rakyat dulu —yang kemudian dibukukan— beberapa kali menyebut-nyebut kopi joss ala Solo, yakni kopi yang dimasukkan bara arang ke dalam gelas, sehingga berbunyi joosssss…

Di Jogja, antara lain di sebuah warung wedangan (orang Jogja bilang “akringan”) depan Stasiun Tugu masih menjual kopi seperti itu. Apa kopinya tidak jadi kotor? Apa itu steril? Apa nggak bikin sakit perut? Hanya orang Solo yang sudah selesai dengan pertanyaan-pertanyaan tidak penting seperti itu, yang biasanya datang dari orang-orang modern yang banyak ilmu dan banyak tahu, pintar mencari informasi di Google, tapi miskin imajinasi tentang bagaimana menikmati hidup ini. Mereka adalah generasi teh celup, generasi kopi 360 derajat whatever, yang tak bisa menangkap denyut dan daya hidup di balik hal-hal yang tak pernah berubah….

solo2017-1

 

 

 

 

Advertisements

One thought on “Solo 2017: Sebuah Catatan Kepulangan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s