“Mencari Rumah yang Lain”: Kota, Kopi, Ruang

Bangku semen memanjang, lampu-lampu bergelantungan. Seorang pria bercelana jogger abu-abu, sepatu sport dan polo shirt putih duduk di ujung bangku, bersedekap tangan, menatap ke kejauhan. Seorang yang lain, mungkin temannya, mungkin pacarnya, memotretnya. Klik. Pria bercelana jogger berdiri. Ganti posisi. Ganti pose dan gaya. Setelah beberapa kali jepretan lagi, dia menenteng ranselnya, masuk ke kafe, menghilang di balik pintu toilet, dan sesaat kemudian kembali ke bangku semen di halaman dengan kostum yang sudah berubah. Berpose lagi di sudut yang berbeda. Klik. Klik. Serombongan pria muda dan perempuan berjilbab yang duduk di bangku lain menatap ke arah mereka, lalu berbisik-bisik sesamanya.

Sebelumnya, mereka berbincang tentang sebuah rencana bisnis masa depan, sambil sesekali menghirup vape dan mengembuskan asapnya ke udara. Vape berpindah tangan. Si perempuan berjilbab mendapat giliran. Setelah menghirup kotak mungil warna hitam segenggaman tangan itu dan mengembuskan asap berkepul-kepul, ia terbatuk-batuk kecil. Teman-temannya tertawa. Tawa yang terlalu lirik dan elegan untuk cukup bergema di antara pepohonan. Siang baru saja beranjak di Jalan Setiabudi. Kemacetan mobil-mobil yang baru saja keluar dari Rumah Mode menjadi pemandangan di jalanan di balik pagar hijau. Suasana terasa cukup tenang. Bandung di pertengahan Juli. Tak ada angin yang bertiup untuk sekedar menggoyang daun-daun yang menaungi pelataran Kafe Mimiti. Untuk ukuran Minggu menjelang tengah hari, pengunjung cukup ramai.

Sepasang pria dan wanita yang sebelumnya duduk di bagian dalam baru saja meninggalkan kafe itu setelah si wanita berpose di depan pintu, dan dipotret oleh si pria. Serombongan ibu-ibu cina masuk, meneliti menu, dan keluar lagi, mungkin mencari tempat lain di sekitarnya yang lebih sesuai dengan selera. Kafe itu hanya menyediakan minuman dan roti. Tak ada menu makan besar. Di pintu kaca depan halaman tertulis “Coffee and Spaces”. Bangunannya minimalis. Orang Jawa-Solo menyebutnya “empok”; bangunan sederhana yang menempel di bangunan lain. Selebihnya adalah halaman yang luas dan rimbun, nyaris tanpa atap kecuali di bagian pinggiran. Secara keseluruhan atapnya adalah rimbun pepohonan. Letaknya tepat di tepi Jalan Setiabudi, satu deret dan tak jauh dari Rumah Mode yang terkenal itu, dan satu area dengan sebuah salon bridal dan warung makan yang trendi. Walaupun terkesan “nyempil”, namun tak sulit untuk menemukannya.

Tempat-tempat seperti itu kini menjadi penanda ruang kota bagi Bandung, yang terus berbenah dan semakin memancarkan pesona yang tak pernah pudar. Selain menyediakan kopi, teh dan cokelat serta aneka roti yang tak terlalu banyak pilihan, Mimiti juga memajang barang-barang layaknya distro. Tapi, hanya merk tertentu yang bisa dijumpai, salah satunya Supreme. Lihatlah topinya yang seharga hampir dua juta rupiah. Lainnya adalah kemeja dan jaket yang digantung berjajar, dalam jumlah yang juga tak banyak. Inilah ruang modern itu: tempat orang-orang merayakan “budaya jalanan”, berfoto, minum kopi, duduk-duduk, melewatkan waktu, sambil mungkin berbelanja, membeli topi seharga hampir dua juta rupiah. Siapa mereka? Turis mingguan dari Jakarta? Atau, warga Bandung sendiri dan sekitarnya?

Ada paradoks dari tempat-tempat seperti itu. Kafe-kafe berlomba menawarkan suasana yang biasa disebut “hommy”? Bahkan, nuansa “hommy” kini tak hanya diciptakan oleh kafe atau restauran melainkan juga mall. Sebuah mall baru di Bandung, Pascal 23, di balik rancangannya sebagai “hyper square”, di sisi lain bisa dilihat mengadopsi konsep “rumah” — dengan halaman belakang tempat anak-anak kita bermain, atau orang-orang dewasa duduk-duduk merokok —lengkap dengan “view” yang menarik sebagai latar belakang selfie maupun foto bersama. Lho, bukankah mereka pergi dari rumah untuk mencari suasana yang lain? Atau, mereka pergi dari rumah untuk mencari “rumah” yang lain, sehingga konsep “hommy” masih berlaku, disukai dan dicari? Apa yang sebenarnya mereka cari?

Sebuah kafe, atau katakanlah dalam bahasa yang lebih umum sebagai “tempat nongkrong” di bilangan Ciumbuleuit bernama Kiputih Satu barangkali memberikan jawaban. Tempat ini merupakan bekas sebuah rumah pribadi yang besar, dengan halaman di bagian belakang menghadap ke pemandangan pepohonan di perkampungan. Teras yang menghadap ke belakang ini memanjang, dari bangunan utama dan bangunan di sampingnya, membentuk sebuah —lagi-lagi dalam istilah Jawa-Solo— “cempuri” yang mengesankan tempat tinggal satu keluarga besar. Di sini, orang-orang seperti tamu yang datang berkunjung ke rumah saudara, dan dijamu di teras belakang.

Begitulah, mengunjungi rumah orang lain selalu terasa lebih menyenangkan. Inilah petualangan manusia-manusia kota hari ini. Petualangan yang digambarkan dengan sangat tepat oleh penyair Gratiagusti Chanaya Rompas dalam salah satu puisinya dengan kalimat-kalimat seperti ini: …petualangan (yang) akan membawa dirimu, ke ruang tamu/ yang layak masuk majalah, dimana keluarga dan kawan-kawanmu/ minum teh dan makan kue coklat (puisi tanpa judul di episode II buku kumpulan Non Spesifik, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2017).

Nama Kiputih Satu diambil dari nama jalan dan nomor di mana kafe itu beralamat. Kalau kamu mau ke Punclut yang terkenal itu, maka dari arah Unpar, ketika sampai di pertigaan bundaran berbeloklah ke kanan. Kiputih Satu terletak di sisi kiri jalan, mudah ditemukan, layaknya rumah saudara yang sudah kita hapal lokasinya, dan berkali-kali kita kunjungi. Menawarkan konsep “Bake and Dine”, Kiputih Satu lebih menjanjikan sebagai tempat untuk bersantai bersama keluarga, dibanding, misalnya, Mimiti tadi. Tapi, benang merah dari tempat-tempat nonkrong kekinian itu adalah atmosfernya yang menggoda setiap pengunjungnya untuk berfoto. Maka, terlihat bahwa karakter dari pengunjung di kedua tempat itu hampir sama, yakni menenteng kamera. Beberapa rombongan tampak merupakan pengunjung yang pertama kali, entah karena mendapat rekomendasi dari teman, atau dari pencarian digital.

ruangkota1

ruangkota2

ruangkota3

ruangkota4

Begitulah yang terjadi di Bandung, begitu pula halnya yang terjadi di Bali. Seorang pengunjung kafe .Temu (dibaca: Titik Temu) di kawasan Seminyak, sejak memasuki areal kafe sudah mengancungkan gadget-nya untuk menakar dan menimbang, titik-titik mana yang menarik untuk difoto, atau dijadikan tempat berfoto; itulah tujuan utamanya.

Kafe .Temu tepatnya terletak di Jalan Kayu Cendana No.1, di bilangan Kayu Aya yang padat dan sibuk, tepat di sisi Seminyak Square. Tempatnya —lagi-lagi— nyempil ke bagian dalam, walaupun di pinggir jalan kita bisa melihat papan namanya. Orang-orang yang mencari kafe itu pasti bertanya pada pegawai restauran di pinggir jalan, di mana lokasi tepatnya —ternyata di belakang deretan resto yang kelihatan di jalan. Mirip dengan atmosfer Mimiti di Bandung, .Temu berkonsep “empok” dengan dinding-dinding kaca, hanya saja pengunjung tak ditawari suasana halaman, melainkan kafe tersebut menyediakan lantai atas yang dihubungkan dengan tangga yang lebar dengan lantai bawah. Di lantai atas, pengunjung duduk di hamparan undakan kayu serupa tribun stadion, menghadap ke ruang kosong terbuka di depan kafe. Di seberang ruang kosong terbuka yang hijau itu, di sisi lorong masuk tadi, ada galeri yang menjual kerajinan tangan dan barang-barang seni.

Konsep tempat duduk serupa tribun stadion atau gedung kesenian juga bisa dijumpai di sebuah tempat nongkrong lain tak jauh dari situ, bernama Char Char Bar and Grill. Di Char Char, yang berlokasi di Jalan Kayu Aya, tepat di pinggir jalan yang barangkali paling ramai di seantero Bali —selain Legian— pengunjung duduk berjajar di undakan, menghadap ke jalan, seolah sedang menonton sebuah pertunjukan —yang tak lain adalah lalu lalang orang-orang dan kemacetan lalu lintas yang tiada putusnya. Kota menjadi ruang terbuka, tempat orang-orang melihat dan dilihat, dari sudut-sudut yang tersembunyi maupun terang-terangan, sambil menikmati kopi dan kudapan, berbincang, santai, tertawa, bergosip atau pun menikmati denyut suasana sejauh tertangkap indera.

Kalau kita kembali lagi ke Kiputih Satu tadi, maka “ruang terbuka” itu terhampar memanjang, dari bagian teras belakang, halaman luar hingga di sisi bangunan di sebelahnya. Dari satu tempat duduk, orang bisa melihat ke segala arah; dari ujung ke ujung pengunjung saling melihat, bahkan mungkin mendengar obrolan dari bangku terdekat, mengetahui apa yang mereka bahas, seolah kita terlibat di dalamnya, lalu ikut membahasnya dengan teman kita sendiri. Sebuah tawaran konsep ruang yang paripurna, mengantisipasi segala hasrat kita, menyediakan apa saja. Di Bali, kita bahkan bisa menjumpai yang lebih lengkap: kafe atau pun resto dengan halaman yang asri dan kolam renang kini tengah menjadi tren. Di bilangan Batu Belig saja ada dua tempat, salah satunya Panama Kitchen and Pool di Jalan Pantai Berawa, Canggu. Siang menjelang sore itu, di sebuah akhir pekan yang biasa awal Agustus yang panas, serombongan cewek dan cowok-cowok hipster dari Jakarta, dengan perangkat “perang”-nya —kamera, baju renang- siap beraksi dan menikmati apa yang ada.

Sesaat setelah memesan makanan dan minuman —homemade fish and frech fries, burger, bali dream, wine, kelapa muda utuh— dan memotretnya lalu mengunggahnya ke Instagram, mereka mulai melepas baju-baju luar, dan telah siap dengan kostum renang yang rupanya telah dipakai dari hotel tempat mereka menginap. Setelah mengoleskan krim pelembab dan pelindung dari sinar matahari ke sekujur tubuh, mereka pun meninggalkan bangku-bangku di bagian dalam, dan turun ke kolam renang di halaman. Tentu saja, tidak seoran pun bermaksud untuk berenang, dalam arti berolah raga membakar kalori —dan, memang jelas bukan untuk tujuan itu tempat tersebut dibuat. Mereka hanya berfoto di berbagai sudut, dengan berganti-ganti gaya, dari duduk di pinggiran hingga berbaring di atas pelampung-pelampung yang sudah disediakan.

Beberapa cewek berjilbab lebih memilih berfoto di sudut lain, di depan pintu masuk atau di jendela dapur, atau di tangga menuju balkon yang menghadap ke sebuah beach club di seberang jalan. Dinding-dinding putih dengan aksen biru pada pintu-pintu dan jendela kayu memberi kesan sebuah negeri lain di Amerika Latin, dengan kota-kota pantai musim panasnya yang khas. Inilah “rumah lain” kita; yang kita rindukan untuk kita kunjungi, mungkin di setiap akhir pekan. Pertualangan yang telah kita pilih sendiri, kalau kembali merujuk bahasa syair Anya Rompas, di kota-kota yang membuat kita “kadang-kadang ingin berdandan hanya karena ini Jumat malam”.

ruangkota5

ruangkota6

ruangkota7

ruangkota8

Membentang dari Bali ke Bandung, antara Seminyak dan Ciumbuleuit, orang-orang mencari kopi dan ruang, memotret dirinya sendiri di depan nama-nama kafe, di sudut-sudut dan dinding-dinding restauran yang bersih mulus tanpa cela, tak peduli apakah kamu turis yang “terpesona bangunan-bangunan tua/ ambil gambar sana-sani” ataupun warga kotamu sendiri yang selalu ingin pergi, mencari rumah yang lain, semewah dan semenyenangkan apapun rumahmu sendiri. Seperti dikatakan oleh seorang narasumber lokal tentang para pengunjung Kiputih Satu, “Mafia Bandung yang supertajir mampus kumpulnya di sana,” seraya menyebut “sandwich-nya enak”. Tapi, saya telanjur memesan nasi goreng dengan salad dedaunan segar dan telur ceplok yang kuningnya masih meleleh….

ruangkota9

ruangkota10

ruangkota11

ruangkota12

ruangkota13

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

2 thoughts on ““Mencari Rumah yang Lain”: Kota, Kopi, Ruang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s