Gado-gado di Sala, Hujan Pagi di Pantai

 

“Sala itu dari bahasa Sanskerta, artinya rumah,” pramusaji cantik berkostum dan topi unik itu menjelaskan dengan kefasihan seorang karyawan yang telah di-training dengan baik. Saya merasa senang mendengar penjelasannya, dan tak menyesal telah bertanya.

“Kebetulan kami baru…baru buka Desember lalu,” jelasnya lagi menambahkan tanpa saya minta. Mendadak, saya merasa telah menjatuhkan pilihan yang tepat. Siang itu, sebelum kembali ke Jakarta untuk penerbangan petang, saya sempatkan mampir sekali lagi ke Sanur, kali ini ingin menikmati suasana kafe-kafe yang unik di sepanjang jalan yang sejajar dengan pantai. Tidak menghadap ke pantai benar memang; untuk sampai ke pantai kau harus berjalan beberapa puluh kilometer melewati gang.

sanur-11

sanur-14

Dengan dominasi warna putih dan dinding kaca di bagian depan, Sala memang tampak cukup mencolok di antara deretan kafe, resto, bar, dan minimarket di sepanjang jalan itu. Bagian depan terdapat teras yang luas, dengan bangku-bangku panjang. Namun, karena sinar matahari cukup menyengat, saya memilih duduk di dalam. Atap kafe ini dibiarkan terbuka, tanpa plafon; jika kita mendongak tampak barisan genting yang menjulang miring, dicat putih begitu saja, sehingga memberi kesan ruangan yang tinggi, luas, dan lega. Bagian bar tempat meracik kopi dan minuman lainnya bisa terlihat dari tempat kita duduk, dan lebih ke dalam lagi bagian dapur.

Saya memesan gado-gado wrap, dan thai beef salad. Bumbu gado-gadonya terasa terlalu manis untuk selera lidah saya, dan isinya didominasi tempe. Untung saya juga pesan salad, yang terdiri atas daun selada dan irisan daging, dengan dressing sedikit yang asem manis gurih. Salad-nya enak banget menurut saya.

sanur-13sanur-12

Siang itu kafe cukup ramai. Di teras terdapat serombongan bapak-bapak lokal yang minum bir. Di bagian dalam, ketika saya datang, telah ada dua orang pria bule tua, dan menyusul kemudian serombongan anak-anak muda, sepertinya turis dari Jakarta. Jalan di depan kafe sepi. Sesekali terlihat seorang perempuan bule tua melintas dengan sepeda berkeranjang yang dikayuh pelan-pelan. Pemandangan itu memberi suasana lain pada Sanur, yang berbeda dengan Kuta atau Berawa.

Hari sebelumnya, sebelum menyeberang ke Nusa Penida, saya telah menyusuri garis pantai, tepat di depan bangunan-bangunan hotel dan resort. Waktu itu hari masih pagi, namun suasana jalur sepanjang pantai itu sudah cukup ramai. Bule-bule pria lari pagi, turis-turis Jepang yang biasanya tampak sebagai pasangan yang sedang berbulan madu berjalan gontai, dan sesekali turis bersepeda melintas. Seorang pria sehabis mandi di pantai bergegas kembali ke hotelnya.

sanur-2sanur-3

Menikmati suasana pantai di pagi hari adalah sumber kebahagiaan yang hakiki. Saya sangat menyukainya, dan selalu merindukannya. Saya selalu berusaha mengulang momen-momen seperti itu. Kehidupan terasa begitu tenang dan penuh kedamaian.

Di sebuah gang, saya melihat warung makan yang dikerumuni banyak pembeli, yang makan dengan duduk di kursi-kursi plastik. Sepertinya enak, dan saya pun tak bisa menahan diri untuk bergabung. Nasi campur bali biasa sebenarnya, tapi setelah saya mencicipinya, memang enak. Belakangan saya baru tahu dari papan nama yang terpampang: Nasi Bali Made Weti.

sanur-1

Saya makan dengan lahap di antara bapak-bapak warga sekitar, dan sepasang pria muda bertato, serta pasangan muda-mudi —yang perempuan berjilbab; sepertinya mereka turis lokal seperti saya. Betapa bahagia melihat orang-orang menikmati sarapan pagi, di hari kerja yang biasa, menjelang akhir pekan. Saya sendiri sengaja mengambil cuti beberapa hari di depan tanggal merah long week end. Mungkin mereka juga begitu. Sekitar pukul sepuluh, seorang pengendara Gojek datang, namun ketika sedang memarkir motornya, salah satu ibu-ibu yang ada di warung berteriak, “Habiiis…”

Usai sarapan, saya melanjutkan berjalan menyusuri garis pantai. Payung-payung yang menaungi bantal-bantal dan kursi-kursi panjang, tempat turis-turis biasa bersantai belum dibuka. Beberapa turis tampak menikmati kopi di resto di areal tempat mereka menginap.

sanur-5sanur-6

Tak lama kemudian hujan turun. Saya berlari ke sebuah pendapa kecil, tempat seorang pria dan ibu-ibu menjaga parkir dan toilet. Hujan semakin deras. Para penjual suvenir mengemasi sarung-sarung dan kaos-kaos dagangannya, memasukkannya ke kios agar tak terkena tempias. Sepasang bule yang semula bertahan di bawah tenda payung menikmati kelapa muda, akhirnya berlari, berteduh di emperan kios. Sepasang gapura pintu masuk ke areal pantai, yang sebelumnya tampak coklat dan kusam, menjadi putih oleh tirai-tirai hujan yang ditiup angin. Dua buah sepeda, entah milik siapa, kehujanan.

sanur-8

Waktu membeku. Saya tak bisa ke mana-mana kecuali menunggu. Tapi, tak ada yang perlu disesali dari hujan pagi, di Pantai Sanur. Ini kunjungan pertama saya ke pantai ini. Biasanya, setiap kali ke Bali, saya hanya menikmati pantai-pantai di bilangan Kuta, Seminyak, Petitenget, Berawa hingga pantai paling ujung di Canggu. Pantai tak pernah gagal membuat saya bahagia.

“Piringnya bisa saya ambil?” suara pramusaji Sala membuyarkan lamunan saya. Sejenak saya mengalihkan pandang dari layar HP, dari foto-foto suasana pagi di pantai kemarin, ke wajah putih dan cantik pramusaji itu. Saya tersenyum mengangguk. “Minumnya mau tambah lagi?” tanyanya sebelum berlalu. “Tidak, terima kasih,” kata saya sambil melihat bir bintang yang sudah saya tuang ke gelas, dan memang sudah hampir tandas.

Saya duduk di kursi yang kakinya dibuat sedemikian rupa sehingga menyerupai kursi goyang. Sepeninggalan pramusaji itu, sambil menggoyang-goyangkan kursi, saya melihat ke luar, ke jalan raya yang sepi. Saya ingin lebih lama lagi menikmati semua ini. Tapi, dalam hati saya berbisik pada diri sendiri, sepuluh menit lagi….

sanur-18

sanur-9

sanur-4

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s