Pada Selembar Foto Buram

Foto itu muncul lagi. Di Facebook. Diunggah oleh seorang teman, dan saya di-tag, delapan tahun lalu, dan pada suatu hari yang belum lama, pada bulan-bulan menjelang akhir tahun 2018 ini, muncul lagi. Kali ini, entah kenapa, tiba-tiba tangan saya tergerak untuk menge-save-nya.

Delapan tahun lalu, ketika pertama kali foto itu muncul, dengan nada berkelakar saya berkomentar, “Emang zaman itu sudah ada kamera ya?”Tentu saja, zaman itu, awal dekade 80-an, sudah ada kamera. Tapi, saya benar-benar tak menyangka bahwa ada teman yang masih menyimpan hasil foto-foto itu. Sebuah rekaman dari acara pentas seni perpisahan setelah kelulusan kami dari SMP Negeri 4 Surakarta.

Seorang teman lain, yang juga terekam dalam foto itu, berkomentar, “Seingatku, kita dulu nggak sekecil itu deh,” yang kemudian disahut oleh teman yang lainnya lagi, “Aku juga hampir nggak percaya kalau kita waktu SMP dulu sekecil itu.”

Hari itu, delapan tahun kemudian, ketika foto itu muncul lagi, berarti momen itu sudah berlalu selama….hampir 30 tahun! Duh, Gusti…alangkah cepatnya waktu berlalu. Tidak, saya tidak akan latah mengatakan, tak terasa waktu berlalu….

Jelas, waktu berlalu dengan nyata terasa, kadang lama, lambat, lelet, kata orang Jawa. Tapi, ada saat ketika waktu terasa berlari, meninggalkanmu di belakang, tersuruk-suruk dalam masa lalu yang berdebu.

Saya tatap lekat-lekat, untuk pertama kalinya, foto yang telah saya save itu. Rambut hitam legam nan tebal belah tengah (saya segera ingat celetukan teman saya waktu itu, “Rambutmu kaya bokong!”), celana banggy coklat (saya juga segera ingat, itu celana yang bahannya saya beli di McMohan, dan saya jahitkan di Pasar Mbeling), kemeja gombrong putih (kemungkinan besar dibelikan oleh bapak saya di Coyudan), duduk di dalam ruangan kelas dalam remang (karena acaranya waktu itu memang malam hari). Kami berfoto-foto di sela-sela (atau seusai?) menyaksikan panggung penuh nyanyian, tarian, dan irama gamelan.

Di foto itu, saya duduk di atas meja, dengan kaki menumpang di meja depannya. Mungkin, maksud saya kala itu, meniru gaya para model Majalah Mode atau pria-pria yang tampil di halaman fashion Majalah Hai. Tidak, kalau saya tak salah ingat, waktu itu saya belum kenal majalah-majalah ibukota itu, kecuali sebuah majalah untuk kalangan pelajar, yang kami langgani lewat sekolahan, sebuah majalah terbitan Semarang, namanya MOP.

Betapa samarnya ingatan. Tiga puluh tahun lebih. Apa yang masih bisa kita ingat? Bagaimana memanggil kembali memori yang telah jauh tertimbun dalam kubangan waktu?

Tatapan saya kemudian terantuk pada sepatu. Saya berusaha mengingat-ingat mereknya apa, tapi gagal. Mungkin Bata, atau Fila, dibelikan oleh ibu saya di toko orang Padang langganannya di Pasar Nusukan. Saya crop foto itu untuk melihat lebih dekat dan lebih jelas wajah saya sendiri. Tiba-tiba saya tersenyum, bukan oleh kepolosan dan kesederhanaan yang mendadak menyeruak dari puing-puing ingatan akan masa yang telah lama lewat. Tapi, ketika melihat wajah itu, saya merasa, bahwa betapa hidup ini tak terlalu sia-sia, karena setidaknya, pada suatu malam di masa lalu, saya pernah begitu muda, riang, dan bahagia.

Apalagi yang bisa saya harapkan sekarang? Ketika selembar foto buram, yang mengabadikan sebuah malam yang terjebak dalam ruangan, pada suatu masa, kini bisa hadir kembali, dengan begitu nyata. Bahkan, mungkin jauh lebih nyata dari kenyataan yang terjadi pada masanya, karena kini, saya bisa memberinya makna apa saja.

Mungkin, malam itu, untuk pertama kalinya, saya merasa telah menjadi seorang lelaki dewasa. Mencoba-coba mengisap rokok, lalu membuangnya karena tersedak, lalu menarik tangan seorang teman ke tengah arena dansa, menggoyangkan tubuh dalam irama lagu Never Give Up on You yang dinyanyikan oleh Fans Club, dan Anytime dari B.V.S.M.P, sambil dengan berbata-bata ikut menyenandungkan lirik lagu-lagu itu, sesekali ditingkahi teriakan-teriakan, tawa, bisik-bisik, curi-curi pandang ke sekeliling, lalu bosan, duduk menyendiri di kegelapan, seperti adegan di film-film, berpikir, setelah ini apa? Masuk ke SMA mana? Masa depan mendadak terbentang, menakutkan, tapi penuh harapan. Jalan masih begitu panjang….

Tapi, kini, jalan panjang itu telah terlewati. Di sinilah aku, menjadi seperti sekarang ini, dengan segala yang kumiliki, memandang selembar foto buram, yang dulu, rasanya, ketika dialami, dan dibayangkan, hanyalah bentangan-bentangan mimpi, bayangan-bayangan, dan berbagai ketidakmungkinan. Mengapa kita harus berjalan ke depan dan tidak ke belakang? Mengapa kita harus selalu memikirkan masa depan, dan bukannya menjadi pelancong abadi ke masa lalu? Bagaimana caranya menghentikan waktu, dan tak usah perlu beranjak ke mana-mana, di sini saja, diam, dalam keheningan dan keraguan yang sempurna?

Saya masih menatap foto di layar mungil itu. Saya pikir hari mendadak mendung, atau sore datang lebih cepat. Tapi, kemudian saya rasakan, pandangan mata sayalah yang perlahan memburam. Saya kembali ke foto yang belum di-crop. Saya begitu kecil dan jauh, dalam sebuah ruang dengan dinding yang tinggi. Wajah saya tersenyum samar. Wajah yang tak pernah membayangkan, bahwa dunia kelak akan menelannya tanpa ampun, melemparkannya dalam kenyataan-kenyataan yang berbeda, dan menyesatkannya dalam labirin yang gelap, fana, di mana kita hanya bisa meraba-raba seperti orang buta, yang tak tahu akan menuju ke mana.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s